Menghitung jejak karbon (carbon footprint) perusahaan adalah langkah pertama yang wajib dilakukan sebelum menyusun strategi dekarbonisasi, menyusun laporan keberlanjutan, maupun memenuhi tuntutan investor dan regulator. Panduan ini menjelaskan cara menghitung emisi Gas Rumah Kaca (GRK) perusahaan di Indonesia secara praktis — mulai dari konsep Scope 1, 2, 3, standar yang dipakai, hingga langkah perhitungannya.

Apa itu Jejak Karbon Perusahaan?

Jejak karbon perusahaan adalah total emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan dari seluruh aktivitas operasional bisnis, dinyatakan dalam satuan ton setara CO₂ (tCO₂e). Perhitungan ini menjadi dasar bagi target Net Zero, pelaporan ESG, serta partisipasi dalam mekanisme perdagangan karbon (bursa karbon Indonesia/IDXCarbon).

Memahami Scope 1, 2, dan 3

Standar internasional GHG Protocol membagi emisi perusahaan menjadi tiga lingkup (scope):

Standar dan Faktor Emisi yang Digunakan

Perhitungan GRK yang kredibel mengacu pada standar yang diakui, terutama GHG Protocol dan ISO 14064-1. Inti perhitungannya sederhana:

Emisi (tCO₂e) = Data Aktivitas × Faktor Emisi

Contoh: konsumsi listrik (kWh) dikalikan faktor emisi grid listrik Indonesia menghasilkan emisi Scope 2. Untuk Indonesia, faktor emisi grid mengacu pada data resmi pemerintah, sementara faktor emisi bahan bakar mengacu pada IPCC.

5 Langkah Menghitung Jejak Karbon Perusahaan

  1. Tentukan batas operasional (boundary): tetapkan periode (mis. 1 tahun), unit bisnis, dan scope yang dihitung.
  2. Kumpulkan data aktivitas: tagihan listrik, konsumsi BBM, data perjalanan, pembelian material, dan data rantai pasok.
  3. Pilih faktor emisi yang sesuai: gunakan faktor emisi resmi (grid Indonesia, IPCC) sesuai jenis sumber.
  4. Hitung dan konsolidasikan emisi per scope, lalu jumlahkan menjadi total tCO₂e.
  5. Verifikasi dan dokumentasikan: lakukan kaji ulang (idealnya assurance independen) agar hasil dapat dipertanggungjawabkan untuk pelaporan dan klaim.

Mengapa Perhitungan Karbon Penting bagi Bisnis Indonesia?

Selain kepatuhan terhadap regulasi yang terus berkembang, perhitungan jejak karbon membuka akses pada pembiayaan hijau (green financing), meningkatkan daya saing dalam rantai pasok global, serta menjadi syarat dasar untuk menyusun laporan keberlanjutan dan assurance yang kredibel. Tanpa baseline emisi yang akurat, target Net Zero hanya menjadi klaim tanpa bukti.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa perbedaan Scope 1, 2, dan 3?

Scope 1 adalah emisi langsung dari sumber milik perusahaan, Scope 2 adalah emisi dari energi yang dibeli (listrik), dan Scope 3 adalah emisi tidak langsung dari rantai nilai (rantai pasok, perjalanan, penggunaan produk).

Standar apa yang dipakai untuk menghitung jejak karbon?

Standar yang paling umum adalah GHG Protocol dan ISO 14064-1. Keduanya menggunakan prinsip Data Aktivitas × Faktor Emisi.

Apakah perusahaan wajib menghitung Scope 3?

Scope 3 belum selalu wajib, namun semakin diharapkan oleh investor dan standar pelaporan (seperti ISSB/IFRS S2) karena sering menjadi porsi emisi terbesar. Memetakan Scope 3 sejak awal mempersiapkan perusahaan menghadapi tuntutan ke depan.

Mulai Hitung Jejak Karbon Perusahaan Anda

Proxsis Sustainability membantu perusahaan menghitung, memverifikasi, dan melaporkan emisi GRK sesuai standar internasional. Tingkatkan kapasitas tim Anda melalui Pelatihan Perhitungan Karbon, atau konsultasikan kebutuhan dekarbonisasi bisnis Anda dengan tim kami. Ingin tahu kesiapan ESG perusahaan Anda? Coba Mini ESG Check gratis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *