<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sustainability Proxsis Group</title>
	<atom:link href="https://sustainability.proxsisgroup.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Oct 2026 01:50:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://sustainability.proxsisgroup.com/wp-content/uploads/2025/08/cropped-Salinan-dari-Desain-Tanpa-Judul-1-32x32.png</url>
	<title>Sustainability Proxsis Group</title>
	<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>7 Buku Panduan CRMS Perbankan 2026 OJK dan Fungsi Masing-Masing</title>
		<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/crms-2026-7-buku-panduan/</link>
					<comments>https://sustainability.proxsisgroup.com/crms-2026-7-buku-panduan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[hisyam]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2026 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Climate Risk & Net Zero]]></category>
		<category><![CDATA[Climate Risk]]></category>
		<category><![CDATA[CRMS 2026]]></category>
		<category><![CDATA[OJK]]></category>
		<category><![CDATA[Perbankan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sustainability.proxsisgroup.com/?p=2145</guid>

					<description><![CDATA[<p>Peta tujuh buku CRMS Perbankan 2026 OJK: fungsi, input, output, dependensi, dan pengguna internal untuk implementasi risiko iklim bank.</p>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/crms-2026-7-buku-panduan/">7 Buku Panduan CRMS Perbankan 2026 OJK dan Fungsi Masing-Masing</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<article class="ps-article">
<figure class="ps-featured-media">
  <img fetchpriority="high" src="https://sustainability.proxsisgroup.com/wp-content/uploads/2026/10/cp-037-7-buku-crms.webp" alt="Ilustrasi tujuh buku CRMS 2026 yang terhubung ke sistem keputusan risiko bank" width="1200" height="630" loading="eager" decoding="async" fetchpriority="high"><br />
</figure>
<p class="ps-dek"><strong>Panduan CRMS Perbankan 2026</strong> terdiri atas tujuh buku yang saling terintegrasi. Buku-buku tersebut bukan tujuh proyek terpisah: Buku 1 menetapkan kerangka, Buku 2 menjelaskan metodologi, Buku 3–5 menyediakan metode dan data pendukung, Buku 6 menampung kertas kerja pelaporan, dan Buku 7 menawarkan Pendekatan Standar bagi bank yang memerlukannya.</p>
<p class="ps-article-meta"><strong>Ditulis oleh: hisyam</strong> · Ditinjau 12 Oktober 2026 oleh AI SME — Climate Risk / Banking · Waktu baca: sekitar 12 menit</p>
<section class="ps-summary" aria-labelledby="ringkasan-eksekutif">
<h2 id="ringkasan-eksekutif">Ringkasan Eksekutif</h2>
<p>OJK mempublikasikan CRMS Perbankan 2026 pada 6 Oktober 2026 sebagai penyempurnaan paket 2024. Tujuh judul resminya adalah Buku 1 Panduan Umum, Buku 2 Panduan Teknis, Buku 3 Metode Perhitungan Emisi, Buku 4 Data Makroekonomi, Buku 5 Data Risiko Fisik, Buku 6 Kertas Kerja, dan Buku 7 Pendekatan Standar CRMS Perbankan 2026.</p>
<p>Artikel ini memetakan fungsi, input, output, dependensi, dan pengguna internal yang relevan. Pemetaan pengguna adalah rekomendasi praktis/editorial untuk membantu koordinasi lintas fungsi—bukan struktur organisasi yang diwajibkan OJK. Bank tetap perlu membaca dokumen asli dan menyesuaikan implementasi dengan profil risiko, portofolio, data, model, dan ketentuan yang berlaku.</p>
</section>
<nav class="ps-toc" aria-label="Daftar isi">
    <strong>Daftar isi</strong></p>
<ol>
<li><a href="#cara-membaca">Cara membaca tujuh buku</a></li>
<li><a href="#peta-tujuh-buku">Peta fungsi tujuh buku</a></li>
<li><a href="#detail-buku">Fungsi masing-masing buku</a></li>
<li><a href="#alur-implementasi">Alur implementasi lintas fungsi</a></li>
<li><a href="#kesalahan">Kesalahan interpretasi</a></li>
</ol>
</nav>
<h2 id="cara-membaca">Cara Membaca Tujuh Buku CRMS 2026</h2>
<p>Cara paling aman adalah memandang ketujuh buku sebagai arsitektur informasi. Buku 1 memberi konteks tentang tata kelola dan manajemen risiko. Buku 2 menerjemahkannya menjadi pendekatan teknis untuk CRSA. Buku 3, 4, dan 5 menyediakan metodologi atau data yang dibutuhkan analisis. Buku 6 menjadi sarana dokumentasi dan pelaporan, sedangkan Buku 7 memberi alternatif metodologi terstandardisasi.</p>
<p>Urutan tersebut tidak berarti pekerjaan selalu berjalan linear. Saat pilot dilakukan, gap pada Buku 6 dapat mengharuskan tim kembali ke definisi data Buku 3 atau asumsi Buku 4. Temuan risiko fisik Buku 5 juga dapat mengubah scoping portofolio pada Buku 2. Karena itu, ownership per buku tetap membutuhkan integrasi Risk, Finance, Credit, Sustainability, Data, Model Validation, dan Regulatory Reporting.</p>
<h2 id="peta-tujuh-buku">Peta Fungsi Tujuh Buku CRMS Perbankan 2026</h2>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Peta tujuh buku CRMS 2026" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th scope="col">Buku</th>
<th scope="col">Fungsi utama</th>
<th scope="col">Input penting</th>
<th scope="col">Output praktis</th>
<th scope="col">Pengguna relevan*</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<th scope="row">1. Panduan Umum</th>
<td>Kerangka governance, strategi, risiko, analisis, pengungkapan, dan implementasi.</td>
<td>Profil bank, governance, strategi, risk framework.</td>
<td>Mandat, prinsip, dan peta implementasi.</td>
<td>Direksi, Komisaris, Risk, Strategy, Sustainability, Compliance.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">2. Panduan Teknis</th>
<td>Metodologi CRSA dan transmisi risiko iklim ke risiko keuangan.</td>
<td>Portofolio, skenario, data kredit/pasar/likuiditas, asumsi model.</td>
<td>Hasil analisis dan metrik risiko yang terdokumentasi.</td>
<td>Risk modelling, Credit, Market Risk, ALM, Finance, Validation.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">3. Metode Perhitungan Emisi</th>
<td>Metodologi emisi GRK debitur dan input biaya karbon.</td>
<td>Aktivitas debitur, faktor emisi, klasifikasi sektor, kualitas data.</td>
<td>Estimasi emisi dan asumsi yang dapat ditelusuri.</td>
<td>Sustainability Data, Credit Data, Portfolio Analytics, Risk Modelling.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">4. Data Makroekonomi</th>
<td>Jalur skenario dan variabel makro untuk CRSA.</td>
<td>Skenario iklim dan asumsi makro yang dikendalikan versinya.</td>
<td>Input skenario yang konsisten untuk analisis.</td>
<td>Economist, Stress Testing, Risk Modelling, Finance, ALM.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">5. Data Risiko Fisik</th>
<td>Data dan parameter risiko fisik untuk analisis eksposur geografis.</td>
<td>Lokasi debitur/aset, hazard, eksposur, kerentanan, kualitas geodata.</td>
<td>Peta eksposur dan input analisis risiko fisik.</td>
<td>GIS/Physical Risk, Credit, Collateral, Operational Resilience.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">6. Kertas Kerja</th>
<td>Kuesioner kualitatif dan template dokumentasi/pelaporan hasil.</td>
<td>Hasil CRSA, metodologi, asumsi, keterbatasan, approval.</td>
<td>Evidence pack dan kertas kerja pelaporan.</td>
<td>Regulatory Reporting, Risk, Finance, Compliance, Governance.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">7. Pendekatan Standar</th>
<td>Alternatif metodologi terstandardisasi bagi bank yang belum memiliki model internal.</td>
<td>Data minimum, parameter standar, portofolio, dan asumsi yang disyaratkan.</td>
<td>Metrik yang dapat dipakai untuk kebutuhan Buku 6 secara proporsional.</td>
<td>Risk Analytics, Credit, Finance/Capital, Reporting, Model Governance.</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p><small>*Pemetaan pengguna merupakan rekomendasi editorial, bukan penetapan struktur organisasi oleh OJK.</small></p>
<h2 id="detail-buku">Fungsi Masing-Masing Buku</h2>
<h3>Buku 1 — Panduan Umum CRMS Perbankan 2026</h3>
<p>Buku 1 membangun kerangka strategis dan prudensial. Isinya membantu bank menempatkan risiko iklim dalam tata kelola, strategi bisnis dan kerangka manajemen risiko, desain analisis, pengungkapan, serta rencana implementasi. Output yang sehat bukan hanya policy document, melainkan kejelasan mandat, eskalasi, risk ownership, dan hubungan hasil analisis dengan keputusan.</p>
<h3>Buku 2 — Panduan Teknis CRMS Perbankan 2026</h3>
<p>Buku 2 menjadi jembatan dari kerangka ke analisis. Di sinilah risiko fisik dan transisi ditransmisikan ke risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, atau permodalan. Buku ini juga membahas scoping, horizon, skenario, metodologi, serta metrik yang perlu dipahami tim model dan fungsi bisnis. Pendekatan teknis tidak boleh digunakan secara mekanis tanpa menilai relevansinya terhadap karakteristik bank.</p>
<h3>Buku 3 — Metode Perhitungan Emisi CRMS Perbankan 2026</h3>
<p>Buku 3 mendukung estimasi emisi GRK debitur dan input terkait biaya karbon dalam analisis. Tim perlu mengendalikan boundary, sumber data, faktor emisi, proxy, klasifikasi sektor, serta ketidakpastian. Emisi debitur tidak boleh otomatis disamakan dengan emisi operasional bank atau seluruh financed emissions tanpa definisi dan tujuan kalkulasi yang jelas. Untuk menilai fondasi datanya, gunakan <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-data-readiness-assessment/">Carbon Data Readiness Assessment</a> sebagai diagnosis internal, bukan sebagai pengganti metodologi OJK.</p>
<h3>Buku 4 — Data Makroekonomi CRMS Perbankan 2026</h3>
<p>Buku 4 menyediakan jalur variabel makroekonomi dan skenario untuk mendukung CRSA, terutama analisis risiko transisi. Tiga skenario jangka panjang yang disebut adalah <em>Net Zero 2050</em>, <em>Delayed Transition</em>, dan <em>Current Policies</em>. Data tersebut bersifat hipotetis dan living document, bukan prakiraan resmi ekonomi Indonesia. Jalur <em>Reference</em> adalah pembanding dan bukan skenario iklim.</p>
<h3>Buku 5 — Data Risiko Fisik CRMS Perbankan 2026</h3>
<p>Buku 5 memperkuat analisis eksposur risiko fisik dengan data geografis pada tingkat yang lebih rinci. Bank perlu menghubungkan lokasi dengan debitur, agunan, fasilitas, atau operasi yang relevan. Peta bahaya saja tidak menghasilkan angka kerugian akhir: eksposur, kerentanan, kualitas koordinat, nilai aset, dan metodologi tetap menentukan interpretasi.</p>
<h3>Buku 6 — Kertas Kerja CRMS Perbankan 2026</h3>
<p>Buku 6 menampung kuesioner kualitatif dan template pelaporan hasil CRSA, termasuk metodologi, asumsi, keterbatasan, serta hasil yang relevan. Pengisian template bukan sertifikat kesiapan. Angka dan narasi tetap memerlukan rekonsiliasi, approval internal, dokumentasi model, dan audit trail. Deadline atau cakupan pelaporan juga harus mengikuti instruksi resmi yang berlaku untuk bank dan periodenya.</p>
<h3>Buku 7 — Pendekatan Standar CRMS Perbankan 2026</h3>
<p>Buku 7 menyediakan <em>Standardized Approach</em> sebagai alternatif bagi bank yang belum memiliki model internal untuk menghitung metrik yang diperlukan. Ini bukan kewajiban universal dan bukan pengganti otomatis model internal. Bank dengan metodologi internal yang lebih maju tetap dapat menggunakannya sepanjang sesuai dengan profil risiko, terdokumentasi, dapat dipertanggungjawabkan, dan diungkapkan dengan tepat dalam kertas kerja.</p>
<aside class="ps-insight" aria-labelledby="makna-tujuh-buku">
<h3 id="makna-tujuh-buku">Apa Artinya bagi Tim Implementasi?</h3>
<p>Jangan membagi satu buku kepada satu departemen lalu menggabungkan hasilnya di akhir. Bentuk satu architecture owner untuk definisi, data lineage, model version, hasil, dan evidence. Dengan demikian, perubahan asumsi di Buku 4 dapat ditelusuri sampai dampaknya pada Buku 2 dan pelaporannya di Buku 6.</p>
</aside>
<h2 id="alur-implementasi">Alur Implementasi Lintas Fungsi</h2>
<ol>
<li><strong>Mulai dari Buku 1:</strong> tetapkan governance, risk ownership, dan ruang lingkup keputusan.</li>
<li><strong>Rancang pilot melalui Buku 2:</strong> pilih portofolio material, horizon, dan jalur transmisi yang akan diuji.</li>
<li><strong>Siapkan input Buku 3–5:</strong> petakan data emisi, makro, skenario, lokasi, hazard, dan kualitas data.</li>
<li><strong>Pilih metodologi secara proporsional:</strong> gunakan model internal yang memadai atau nilai Pendekatan Standar Buku 7 bila relevan.</li>
<li><strong>Dokumentasikan dalam Buku 6:</strong> rekonsiliasi hasil, asumsi, limitations, approval, dan action plan.</li>
<li><strong>Integrasikan ke keputusan:</strong> hubungkan temuan dengan risk appetite, portfolio review, strategi, dan disclosure yang relevan.</li>
</ol>
<p>Untuk konteks manajemen risiko yang lebih luas, lihat layanan <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/esg-risk-opportunity-management/">ESG Risk &amp; Opportunity Management</a>. Hubungan dengan <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2/">panduan PSPK 2</a> perlu dirancang sebagai aliran evidence, bukan asumsi bahwa satu template CRMS otomatis memenuhi seluruh kebutuhan climate disclosure.</p>
<h2 id="kesalahan">Kesalahan Interpretasi yang Perlu Dihindari</h2>
<ul>
<li>Menganggap tujuh buku sebagai tujuh kewajiban terpisah tanpa integrasi data dan keputusan.</li>
<li>Menyatakan Buku 3 hanya menghitung emisi operasional bank.</li>
<li>Menyebut data Buku 4 sebagai prediksi ekonomi atau hasil aktual bank.</li>
<li>Menganggap peta Buku 5 cukup untuk menghitung kerugian tanpa exposure dan vulnerability.</li>
<li>Menganggap Buku 6 sebagai bukti otomatis kepatuhan.</li>
<li>Menyatakan Buku 7 wajib untuk semua bank.</li>
</ul>
<aside class="ps-cta" aria-labelledby="cta-panduan-crms">
<h2 id="cta-panduan-crms">Petakan Tujuh Buku ke Operating Model Bank</h2>
<p>Gunakan dokumen asli OJK sebagai rujukan utama. Proxsis Sustainability dapat membantu memfasilitasi pemetaan lintas fungsi dan baseline gap internal; layanan ini bukan panduan resmi OJK, sertifikasi, opini hukum, atau jaminan kepatuhan.</p>
<p>    <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/esg-risk-opportunity-management/">Diskusikan Pemetaan Risiko Iklim</a><br />
  </aside>
<section class="ps-related" aria-labelledby="terkait-panduan-crms">
<h2 id="terkait-panduan-crms">Insight Terkait</h2>
<ul>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/crms-perbankan-2026/">Baca panduan CRMS Perbankan 2026</a></li>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-management/">Bangun fondasi Carbon Management Indonesia</a></li>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/insight/">Jelajahi Sustainability Insight Hub</a></li>
</ul>
</section>
<section class="ps-sources" aria-labelledby="sumber-panduan-crms">
<h2 id="sumber-panduan-crms">Sumber Rujukan</h2>
<ul>
<li><a href="https://ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Pages/Panduan-Climate-Risk-Management-and-Scenario-Analysis-Perbankan-CRMS-2026.aspx" rel="nofollow noopener">OJK — Panduan CRMS Perbankan 2026</a></li>
<li><a href="https://www.ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Documents/Buku%201%20Panduan%20Umum%20CRMS%20Perbankan%202026.pdf" rel="nofollow noopener">OJK — Buku 1 Panduan Umum</a></li>
<li><a href="https://www.ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Documents/Buku%202%20Panduan%20Teknis%20CRMS%20Perbankan%202026.pdf" rel="nofollow noopener">OJK — Buku 2 Panduan Teknis</a></li>
<li><a href="https://www.ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Documents/Buku%203%20Metode%20Perhitungan%20Emisi%20CRMS%20Perbankan%202026.pdf" rel="nofollow noopener">OJK — Buku 3 Metode Perhitungan Emisi</a></li>
<li><a href="https://www.ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Documents/Buku%204%20Data%20Makroekonomi%20CRMS%20Perbankan%202026.pdf" rel="nofollow noopener">OJK — Buku 4 Data Makroekonomi</a></li>
<li><a href="https://www.ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Documents/Buku%205%20Data%20Risiko%20Fisik%20CRMS%20Perbankan%202026.pdf" rel="nofollow noopener">OJK — Buku 5 Data Risiko Fisik</a></li>
<li><a href="https://www.ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Documents/Buku%206%20Kertas%20Kerja%20CRMS%20Perbankan%202026.pdf" rel="nofollow noopener">OJK — Buku 6 Kertas Kerja</a></li>
<li><a href="https://www.ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Documents/Buku%207%20Pendekatan%20Standar%20CRMS%20Perbankan%202026.pdf" rel="nofollow noopener">OJK — Buku 7 Pendekatan Standar</a></li>
</ul>
</section>
</article>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/crms-2026-7-buku-panduan/">7 Buku Panduan CRMS Perbankan 2026 OJK dan Fungsi Masing-Masing</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sustainability.proxsisgroup.com/crms-2026-7-buku-panduan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>CRMS Perbankan 2026 OJK: Apa yang Berubah dan Apa yang Harus Dipersiapkan Bank?</title>
		<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/crms-perbankan-2026/</link>
					<comments>https://sustainability.proxsisgroup.com/crms-perbankan-2026/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[hisyam]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2026 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Climate Risk & Net Zero]]></category>
		<category><![CDATA[Climate Risk]]></category>
		<category><![CDATA[CRMS 2026]]></category>
		<category><![CDATA[OJK]]></category>
		<category><![CDATA[Perbankan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sustainability.proxsisgroup.com/?p=2143</guid>

					<description><![CDATA[<p>Panduan CRMS Perbankan 2026: perubahan utama dari 2024, tujuh buku OJK, serta workstream data, risiko, governance, dan pelaporan bank.</p>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/crms-perbankan-2026/">CRMS Perbankan 2026 OJK: Apa yang Berubah dan Apa yang Harus Dipersiapkan Bank?</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<article class="ps-article">
<figure class="ps-featured-media">
  <img fetchpriority="high" src="https://sustainability.proxsisgroup.com/wp-content/uploads/2026/10/cp-036-crms-2026.webp" alt="Ilustrasi sistem manajemen risiko iklim dan kesiapan bank untuk CRMS 2026" width="1200" height="630" loading="eager" decoding="async" fetchpriority="high"><br />
</figure>
<p class="ps-dek"><strong>CRMS Perbankan 2026</strong> adalah penyempurnaan panduan Climate Risk Management and Scenario Analysis OJK yang membantu bank mengintegrasikan risiko iklim ke tata kelola, strategi bisnis, manajemen risiko, pengukuran dan target, serta pengungkapan. Berdasarkan dokumen OJK yang dipublikasikan 6 Oktober 2026, paket ini terdiri atas tujuh buku yang saling terintegrasi dan perlu diterjemahkan menjadi workstream lintas fungsi, bukan sekadar proyek pelaporan.</p>
<p class="ps-article-meta"><strong>Ditulis oleh: hisyam</strong> · Ditinjau 12 Oktober 2026 oleh AI SME — Climate Risk / Banking · Waktu baca: sekitar 11 menit</p>
<section class="ps-summary" aria-labelledby="ringkasan-eksekutif">
<h2 id="ringkasan-eksekutif">Ringkasan Eksekutif</h2>
<p>CRMS 2026 mempertahankan prinsip dasar kerangka 2024, tetapi memperkuat operasionalisasi, data, metodologi, dan konsistensi implementasinya. Perubahan yang secara eksplisit disampaikan OJK mencakup penyempurnaan metodologi perhitungan emisi pada Buku 3, pengkinian asumsi makroekonomi dan skenario iklim pada Buku 4, perluasan cakupan risiko fisik pada Buku 5, serta penambahan Buku 7 Pendekatan Standar.</p>
<p>Bagi bank, implikasinya bukan hanya mengunduh template baru. Tim perlu menetapkan governance, menentukan ruang lingkup portofolio, menyiapkan data debitur dan lokasi, mendokumentasikan metodologi, menjalankan validasi, serta menghubungkan hasil analisis dengan keputusan risiko dan bisnis. CRMS 2026 adalah panduan dan living document; artikel ini bukan opini hukum atau bukti bahwa suatu bank telah memenuhi seluruh ketentuan OJK.</p>
</section>
<nav class="ps-toc" aria-label="Daftar isi">
    <strong>Daftar isi</strong></p>
<ol>
<li><a href="#apa-itu-crms">Apa itu CRMS Perbankan 2026?</a></li>
<li><a href="#perubahan-2024-2026">Apa yang berubah dari 2024?</a></li>
<li><a href="#risiko-dan-skenario">Risiko fisik, transisi, dan analisis skenario</a></li>
<li><a href="#workstream">Enam workstream kesiapan bank</a></li>
<li><a href="#roadmap">Roadmap 30/60/90 hari</a></li>
</ol>
</nav>
<h2 id="apa-itu-crms">Apa Itu CRMS Perbankan 2026?</h2>
<p>Climate Risk Management and Scenario Analysis atau CRMS adalah kerangka OJK untuk membantu perbankan mengelola risiko perubahan iklim dan menilai ketahanan model bisnis melalui analisis skenario. Kerangka tersebut menempatkan risiko iklim di dalam tata kelola, strategi, proses manajemen risiko, pengukuran dan target, serta pengungkapan bank.</p>
<p>CRMS perlu dibedakan dari CRSA. <strong>CRMS</strong> adalah kerangka manajemen risiko iklim dan analisis skenario secara keseluruhan, sedangkan <strong>Climate Risk Scenario Analysis (CRSA)</strong> adalah pelaksanaan analisis skenario di dalam kerangka itu. Keduanya juga tidak identik dengan pengungkapan keberlanjutan. Hasil CRSA dapat menjadi input penting untuk keputusan risiko dan disclosure, tetapi masing-masing proses memiliki tujuan, kontrol, dan pengguna yang berbeda.</p>
<p>CRMS 2026 bukan peraturan baru yang berdiri sendiri. Ia merupakan panduan yang mendukung penguatan pengelolaan risiko iklim perbankan. Bila bank menilai kewajiban hukumnya, tim tetap perlu membaca ketentuan yang berlaku—termasuk konteks tata kelola Bank Umum—serta arahan OJK untuk populasi dan periode pelaporan yang relevan.</p>
<h2 id="perubahan-2024-2026">Apa yang Berubah dari CRMS 2024 ke CRMS 2026?</h2>
<p>Versi 2024 terdiri atas enam buku. Versi 2026 berkembang menjadi tujuh buku yang tetap dibaca sebagai satu sistem. OJK menyebut empat pengkinian utama berikut.</p>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Perubahan utama CRMS 2026" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th scope="col">Area</th>
<th scope="col">Pengkinian 2026</th>
<th scope="col">Implikasi kesiapan</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<th scope="row">Buku 3 — Emisi</th>
<td>Metodologi perhitungan emisi diperbarui.</td>
<td>Definisi, boundary, sumber data debitur, faktor emisi, dan kontrol kalkulasi perlu terdokumentasi.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">Buku 4 — Makro dan skenario</th>
<td>Asumsi makroekonomi dan skenario iklim diperbarui.</td>
<td>Tim perlu mengendalikan versi asumsi dan menjelaskan keterbatasan data hipotetis.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">Buku 5 — Risiko fisik</th>
<td>Cakupan analisis risiko fisik diperkuat dan diperluas.</td>
<td>Data lokasi eksposur harus dapat dihubungkan dengan debitur, agunan, operasi, dan portofolio.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">Buku 7 — Pendekatan Standar</th>
<td>Ditambahkan alternatif metodologi terstandardisasi.</td>
<td>Bank tanpa model internal dapat memakai baseline yang lebih terstruktur; ini bukan kewajiban universal atau pengganti otomatis model internal.</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p>Buku 2 juga memperkuat aspek teknis, termasuk pembaruan skenario, identifikasi sektor atau portofolio prioritas, asumsi makroekonomi, metodologi risiko kredit, dan template yang lebih terstandardisasi. Namun, formula dan pendekatan tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik portofolio, kualitas data, profil risiko, dan tata kelola model setiap bank.</p>
<h2 id="risiko-dan-skenario">Risiko Fisik, Risiko Transisi, dan Analisis Skenario</h2>
<p><strong>Risiko fisik</strong> timbul dari dampak perubahan iklim yang akut atau kronis, seperti kejadian cuaca ekstrem dan perubahan kondisi lingkungan jangka panjang. Dampaknya dapat menjalar melalui kerusakan aset, gangguan operasi, penurunan kemampuan membayar debitur, perubahan nilai agunan, atau konsentrasi geografis portofolio.</p>
<p><strong>Risiko transisi</strong> muncul dari perubahan kebijakan, teknologi, pasar, dan perilaku saat ekonomi bergerak menuju model rendah karbon. Jalur transmisinya dapat mencakup kenaikan biaya, penurunan daya saing, perubahan permintaan, stranded assets, atau tekanan terhadap arus kas debitur. Kedua kelompok risiko tersebut kemudian perlu diterjemahkan ke risiko perbankan yang sudah dikenal, seperti kredit, pasar, likuiditas, operasional, dan permodalan.</p>
<p>Buku teknis CRMS 2026 memuat tiga skenario jangka panjang yang merujuk pada NGFS Phase V: <em>Net Zero 2050</em>, <em>Delayed Transition</em>, dan <em>Current Policies</em>. Skenario ini bersifat hipotetis untuk menguji ketahanan, bukan prakiraan resmi ekonomi Indonesia, prediksi kerugian aktual bank, atau target kebijakan pemerintah. Jalur <em>Reference</em> yang digunakan sebagai pembanding juga tidak boleh disebut sebagai skenario iklim keempat.</p>
<aside class="ps-insight" aria-labelledby="arti-bagi-bank">
<h3 id="arti-bagi-bank">Apa Artinya bagi Bank?</h3>
<p>Nilai CRMS tidak terletak pada satu angka stres, tetapi pada kemampuan bank menjelaskan rantai sebab-akibat dari asumsi iklim sampai keputusan. Model, data, expert judgement, keterbatasan, validasi, dan approval harus dapat ditelusuri sehingga hasilnya dapat digunakan secara proporsional dalam manajemen portofolio.</p>
</aside>
<h2 id="workstream">CRMS Readiness Workstream Map</h2>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Workstream kesiapan CRMS" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th scope="col">Workstream</th>
<th scope="col">Pertanyaan utama</th>
<th scope="col">Bukti awal</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<th scope="row">1. Governance</th>
<td>Siapa menetapkan mandat, mengawasi metodologi, dan menyetujui hasil?</td>
<td>Charter, RACI, agenda komite, escalation path, dan sign-off.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">2. Portfolio scoping</th>
<td>Eksposur, sektor, horizon, dan materialitas apa yang diprioritaskan?</td>
<td>Portfolio map, kriteria materialitas, konsentrasi, dan alasan cakupan.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">3. Data</th>
<td>Apakah data debitur, emisi, lokasi, agunan, dan keuangan dapat dihubungkan?</td>
<td>Data dictionary, lineage, quality rules, ownership, dan exception log.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">4. Methodology</th>
<td>Model, asumsi, skenario, dan expert judgement apa yang digunakan?</td>
<td>Methodology paper, versioning, limitations, dan dokumentasi model.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">5. Validation dan use</th>
<td>Bagaimana hasil diuji dan dipakai dalam risk appetite atau keputusan portofolio?</td>
<td>Validation record, sensitivity test, minutes, limit review, dan action log.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">6. Reporting</th>
<td>Bisakah hasil dan keterbatasan direkonsiliasi ke Buku 6 dan approval internal?</td>
<td>Kertas kerja, reconciliation, evidence pack, approval, dan audit trail.</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p>Untuk gap data karbon, bank dapat memakai <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-data-readiness-assessment/">Carbon Data Readiness Assessment</a> sebagai diagnosis awal. Asesmen tersebut bukan alat resmi OJK dan tidak menggantikan validasi metodologi CRMS. Keterhubungan dengan <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2/">panduan PSPK 2</a> juga perlu dibangun secara hati-hati: evidence risiko iklim dapat mendukung disclosure, tetapi tidak otomatis memenuhi seluruh persyaratan pelaporan.</p>
<h2 id="roadmap">Roadmap Persiapan 30/60/90 Hari</h2>
<p>Roadmap 30/60/90 hari berikut adalah ilustrasi urutan kerja internal untuk membangun baseline kesiapan. Ini bukan tenggat implementasi atau pelaporan yang ditetapkan OJK; jadwal aktual perlu disesuaikan dengan instruksi resmi yang berlaku, kompleksitas portofolio, kesiapan data, dan tata kelola masing-masing bank.</p>
<h3>Hari 1–30: tetapkan baseline dan keputusan ruang lingkup</h3>
<p>Bentuk sponsor dan working group lintas fungsi, inventarisasi model dan data yang sudah ada, serta petakan perbedaan antara praktik 2024 dan panduan 2026. Tetapkan portofolio prioritas dan daftar keputusan yang memerlukan arahan Direksi, Dewan Komisaris, atau komite terkait.</p>
<h3>Hari 31–60: lakukan pilot data dan metodologi</h3>
<p>Pilih satu atau dua segmen yang material untuk menelusuri data dari debitur dan lokasi hingga keluaran risiko. Dokumentasikan asumsi, jalankan sensitivity check, dan pisahkan gap data dari gap metodologi. Bila bank belum memiliki model internal yang sesuai, nilai relevansi Pendekatan Standar secara proporsional; jangan mengadopsinya sebagai kewajiban otomatis.</p>
<h3>Hari 61–90: dry run, validasi, dan integrasi keputusan</h3>
<p>Susun dry run kertas kerja, rekonsiliasi hasil dengan sumber data, dan minta fungsi independen menilai metodologi serta keterbatasannya. Uji bagaimana temuan akan memengaruhi risk appetite, pemantauan sektor, keputusan kredit, strategi, atau permodalan bila relevan. Tutup siklus dengan action register yang memiliki owner dan target.</p>
<h2>Kesalahan yang Perlu Dihindari</h2>
<ol>
<li>Menyebut CRMS 2026 sebagai peraturan baru tanpa membedakannya dari regulasi yang berlaku.</li>
<li>Menganggap pengisian template sama dengan bukti kesiapan atau kepatuhan.</li>
<li>Menggunakan skenario hipotetis sebagai prediksi kerugian aktual.</li>
<li>Menyatakan Buku 7 wajib bagi seluruh bank atau menggantikan semua model internal.</li>
<li>Menggabungkan emisi operasional bank, emisi debitur, dan financed emissions tanpa definisi boundary.</li>
</ol>
<aside class="ps-cta" aria-labelledby="cta-crms">
<h2 id="cta-crms">Bangun Baseline Kesiapan CRMS yang Dapat Ditelusuri</h2>
<p>Proxsis Sustainability dapat membantu memetakan governance, data, metodologi, dan evidence untuk program kesiapan internal. Review ini bersifat indikatif dan bukan instrumen resmi OJK, sertifikasi, opini hukum, atau jaminan kepatuhan.</p>
<p>    <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/esg-risk-opportunity-management/">Diskusikan ESG Risk &amp; Opportunity Management</a><br />
  </aside>
<section class="ps-related" aria-labelledby="terkait-crms">
<h2 id="terkait-crms">Insight dan Alat Terkait</h2>
<ul>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/executive-sustainability-assessment/">Mulai Executive Sustainability Assessment</a></li>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-management/">Pelajari Carbon Management Indonesia</a></li>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/insight/">Jelajahi Sustainability Insight Hub</a></li>
</ul>
</section>
<section class="ps-sources" aria-labelledby="sumber-crms">
<h2 id="sumber-crms">Sumber Rujukan</h2>
<ul>
<li><a href="https://ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Pages/Panduan-Climate-Risk-Management-and-Scenario-Analysis-Perbankan-CRMS-2026.aspx" rel="nofollow noopener">OJK — Panduan CRMS Perbankan 2026, 6 Oktober 2026</a></li>
<li><a href="https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OJK-Luncurkan-RP3I-2026-2030-Perkuat-Resiliensi-Dan-Peran-Perbankan-Sebagai-Penggerak-Ekonomi.aspx" rel="nofollow noopener">OJK — Siaran Pers RP3I 2026–2030 dan CRMS 2026, 2 Oktober 2026</a></li>
<li><a href="https://www.ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Documents/Buku%201%20Panduan%20Umum%20CRMS%20Perbankan%202026.pdf" rel="nofollow noopener">OJK — Buku 1 Panduan Umum CRMS Perbankan 2026</a></li>
<li><a href="https://www.ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Documents/Buku%202%20Panduan%20Teknis%20CRMS%20Perbankan%202026.pdf" rel="nofollow noopener">OJK — Buku 2 Panduan Teknis CRMS Perbankan 2026</a></li>
<li><a href="https://www.ojk.go.id/id/Publikasi/Roadmap-dan-Pedoman/Perbankan/Documents/Buku%204%20Data%20Makroekonomi%20CRMS%20Perbankan%202026.pdf" rel="nofollow noopener">OJK — Buku 4 Data Makroekonomi CRMS Perbankan 2026</a></li>
<li><a href="https://ojk.go.id/id/regulasi/Pages/Penerapan-Tata-Kelola-Bagi-Bank-Umum.aspx" rel="nofollow noopener">OJK — POJK Nomor 17 Tahun 2023 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Umum</a></li>
</ul>
</section>
</article>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/crms-perbankan-2026/">CRMS Perbankan 2026 OJK: Apa yang Berubah dan Apa yang Harus Dipersiapkan Bank?</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sustainability.proxsisgroup.com/crms-perbankan-2026/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PSPK 2 Adalah Standar Pengungkapan Iklim: Apa yang Berubah?</title>
		<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2/</link>
					<comments>https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[hisyam]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2026 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ESG Reporting & Disclosure]]></category>
		<category><![CDATA[Climate Disclosure]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[PSPK 2]]></category>
		<category><![CDATA[Risiko Iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sustainability.proxsisgroup.com/?p=2000</guid>

					<description><![CDATA[<p>PSPK 2 adalah standar pengungkapan terkait iklim. Pahami risiko fisik dan transisi, skenario iklim, metrik, data, serta langkah kesiapan.</p>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2/">PSPK 2 Adalah Standar Pengungkapan Iklim: Apa yang Berubah?</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<article class="ps-article">
<figure class="ps-featured-media">
  <img fetchpriority="high" src="https://sustainability.proxsisgroup.com/wp-content/uploads/2026/09/cp-003-pspk-2.webp" alt="Ilustrasi PSPK 2 yang menghubungkan risiko iklim, strategi, metrik, dan pelaporan perusahaan" width="1200" height="630" loading="eager" decoding="async" fetchpriority="high"><br />
</figure>
<p class="ps-dek"><strong>PSPK 2 adalah</strong> standar pengungkapan terkait iklim di Indonesia yang berfokus pada risiko fisik, risiko transisi, dan peluang terkait iklim yang diperkirakan cukup dapat memengaruhi prospek entitas. PSPK 2 menggunakan empat konten inti—tata kelola, strategi, manajemen risiko, serta metrik dan target—dan efektif untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2027.</p>
<p class="ps-article-meta"><strong>Ditulis oleh: hisyam</strong> · Ditinjau 6 September 2026 oleh AI Specialist Agent — PSPK &amp; Reporting · Waktu baca: sekitar 12 menit</p>
<section class="ps-summary" aria-labelledby="ringkasan-pspk2">
<h2 id="ringkasan-pspk2">Ringkasan Eksekutif</h2>
<p>Perubahan utama PSPK 2 bukan sekadar penambahan tabel emisi. Perusahaan perlu menghubungkan pengawasan iklim, risiko dan peluang yang telah diidentifikasi, dampaknya terhadap model bisnis dan strategi, ketahanan iklim, proses manajemen risiko, metrik lintas industri, target, dan keputusan alokasi modal.</p>
<p>Data emisi tetap penting, tetapi tidak cukup berdiri sendiri. Pengungkapan yang kuat memerlukan bukti tentang lokasi aset yang terpapar risiko fisik, asumsi kebijakan dan teknologi, horizon waktu, dampak keuangan, data lineage, metode pengukuran, serta interpretasi hasil analisis skenario. Kewajiban entitas tertentu harus dikonfirmasi melalui standar final dan ketentuan regulator yang berlaku.</p>
</section>
<nav class="ps-toc" aria-label="Daftar isi">
    <strong>Daftar isi</strong></p>
<ol>
<li><a href="#ruang-lingkup-pspk2">Ruang lingkup PSPK 2</a></li>
<li><a href="#empat-perubahan">Empat perubahan proses</a></li>
<li><a href="#skenario-iklim">Analisis skenario dan ketahanan iklim</a></li>
<li><a href="#metrik-iklim">Metrik dan data iklim</a></li>
<li><a href="#evidence-map">Climate Disclosure Evidence Map</a></li>
<li><a href="#roadmap-90">Roadmap 90 hari</a></li>
</ol>
</nav>
<h2 id="ruang-lingkup-pspk2">Apa Ruang Lingkup PSPK 2?</h2>
<p>DSK IAI mengesahkan PSPK 2 bersama PSPK 1 pada 1 Juli 2025 dan menyatakan keduanya tidak memiliki perbedaan substansi dari draf eksposurnya. PSPK 2 merujuk pada IFRS S2 Climate-related Disclosures dengan penyesuaian tanggal efektif dan ketentuan transisi tertentu untuk konteks Indonesia.</p>
<p>Risiko fisik terkait iklim dapat bersifat akut, seperti peristiwa cuaca ekstrem, atau kronis, seperti perubahan pola curah hujan, kenaikan temperatur, dan kenaikan muka laut. Risiko transisi muncul ketika ekonomi bergerak menuju kondisi yang lebih rendah karbon dan dapat berkaitan dengan kebijakan, hukum, teknologi, pasar, atau reputasi. Peluang iklim dapat muncul dari efisiensi sumber daya, sumber energi, produk atau jasa baru, pasar baru, dan ketahanan yang meningkat.</p>
<p>PSPK 2 tidak meminta perusahaan menuliskan setiap risiko iklim yang mungkin dibayangkan. Fokusnya adalah risiko dan peluang yang diperkirakan cukup dapat memengaruhi prospek entitas. Penilaian tersebut harus selaras dengan prinsip materialitas dan informasi terhubung dalam PSPK 1.</p>
<h2 id="empat-perubahan">Empat Perubahan Proses untuk Climate Disclosure</h2>
<h3>1. Pengawasan perlu terlihat dalam keputusan</h3>
<p>Pengungkapan tata kelola perlu menjelaskan proses, kontrol, dan prosedur pengawasan. Daftar nama komite saja tidak memadai apabila tidak menunjukkan mandat, frekuensi informasi, kompetensi, keputusan yang diambil, dan bagaimana kinerja iklim dipantau.</p>
<h3>2. Risiko iklim perlu terhubung dengan strategi dan keuangan</h3>
<p>Perusahaan perlu mengidentifikasi di mana risiko dan peluang terkonsentrasi dalam model bisnis dan rantai nilai, horizon waktunya, serta dampak saat ini dan yang diantisipasi terhadap posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas. Keterhubungan ini menuntut koordinasi erat antara Sustainability, Risk, Strategy, Finance, Operations, dan pemilik aset.</p>
<h3>3. Proses iklim perlu masuk ke manajemen risiko perusahaan</h3>
<p>Tim harus dapat menjelaskan masukan, parameter, sumber data, cakupan operasi, metode penilaian, cara memprioritaskan risiko, dan bagaimana hasilnya menginformasikan proses manajemen risiko keseluruhan. Register iklim yang terpisah dan tidak pernah masuk ke ERM akan sulit mendukung narasi ini.</p>
<h3>4. Metrik dan target perlu ditelusuri ke sumber</h3>
<p>Setiap metrik memerlukan definisi, boundary, metode, pemilik, frekuensi, kontrol, dan rekonsiliasi. Untuk target, tim perlu mendokumentasikan basis tahun, cakupan, metodologi, milestone, proses peninjauan, kinerja terhadap target, dan penggunaan kredit karbon bila relevan.</p>
<h2 id="skenario-iklim">Analisis Skenario dan Ketahanan Iklim</h2>
<p>PSPK 2 menempatkan analisis skenario terkait iklim sebagai alat untuk menilai ketahanan strategi dan model bisnis terhadap perubahan, perkembangan, serta ketidakpastian iklim. Pendekatan yang dipilih perlu sesuai dengan kondisi entitas dan mempertimbangkan informasi wajar dan terdukung yang tersedia tanpa biaya atau upaya berlebihan.</p>
<p>Ini tidak berarti setiap perusahaan harus langsung membangun model kuantitatif paling kompleks. IFRS Foundation menjelaskan prinsip pendekatan yang sepadan dengan keadaan entitas. Faktor yang relevan mencakup tingkat paparan risiko, keterampilan, kapabilitas, dan sumber daya. Namun, metode sederhana tetap membutuhkan alasan pemilihan, input, asumsi, horizon waktu, sumber skenario, serta interpretasi yang dapat ditinjau.</p>
<aside class="ps-insight" aria-labelledby="skenario-bukan-ramalan">
<h3 id="skenario-bukan-ramalan">Analisis skenario bukan ramalan tunggal</h3>
<p>Tujuannya bukan memilih satu masa depan yang dianggap pasti. Analisis menguji bagaimana strategi dan model bisnis bertahan pada kondisi yang berbeda. Hasil yang perlu dipahami manajemen adalah area kerentanan, kapasitas adaptasi, keputusan yang tetap kuat di beberapa skenario, dan asumsi yang paling memengaruhi kesimpulan.</p>
</aside>
<h2 id="metrik-iklim">Metrik dan Data Apa yang Perlu Disiapkan?</h2>
<p>Ringkasan resmi DE PSPK 2 mencantumkan tujuh kategori metrik lintas industri: emisi gas rumah kaca, risiko transisi, risiko fisik, peluang iklim, penyaluran modal, harga karbon internal, dan remunerasi. Tidak semua kategori berarti setiap perusahaan memakai metrik yang identik; pengungkapan perlu merepresentasikan paparan dan keputusan entitas.</p>
<p>Untuk emisi, perusahaan perlu memisahkan Cakupan 1, Cakupan 2, dan Cakupan 3 sesuai ketentuan yang berlaku. Draf resmi IAI memberikan keringanan transisi selama tiga tahun pertama sejak penerapan awal: entitas diperbolehkan menggunakan metode selain GHG Protocol Corporate Standard dan tidak mengungkapkan emisi Cakupan 3. Karena ketentuan transisi dapat berdampak material pada roadmap data, perusahaan harus membaca naskah final PSPK 2 dan kebijakan regulator sebelum mengandalkan keringanan tersebut.</p>
<p>Walau suatu keringanan tersedia, menunda seluruh kesiapan data rantai nilai dapat menciptakan risiko operasional. Pemetaan sumber data, kategori emisi yang relevan, kualitas data pemasok, faktor emisi, dan proses estimasi membutuhkan waktu. Artikel <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/scope-1-2-3-emisi-pengertian-perbedaan-contoh/">Scope 1, 2, dan 3 dalam pelaporan emisi</a> dapat digunakan sebagai pengantar, sedangkan <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-data-readiness-assessment/">Carbon Data Readiness Assessment</a> membantu memetakan kesiapan proses dan sumber data yang sudah ada.</p>
<h2 id="evidence-map">Climate Disclosure Evidence Map</h2>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Climate Disclosure Evidence Map" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th scope="col">Rantai keputusan</th>
<th scope="col">Pertanyaan manajemen</th>
<th scope="col">Bukti minimum</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<th scope="row">Paparan</th>
<td>Aset, operasi, pasar, atau rantai nilai mana yang terpapar?</td>
<td>Lokasi, proses, pemasok, produk, horizon waktu, dan sumber data.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">Risiko/peluang</th>
<td>Apa jalur dampaknya terhadap prospek?</td>
<td>Risk register, driver fisik/transisi, peluang, likelihood, dan magnitude.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">Implikasi keuangan</th>
<td>Bagaimana dampaknya masuk ke arus kas, aset, biaya, atau pembiayaan?</td>
<td>Asumsi, anggaran, capex, impairment inputs, sensitivitas, dan rekonsiliasi.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">Respons strategi</th>
<td>Keputusan apa yang diambil, kapan, dan oleh siapa?</td>
<td>Business case, keputusan investasi, rencana adaptasi/mitigasi, dan owner.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">Metrik/target</th>
<td>Bagaimana paparan dan kemajuan dipantau?</td>
<td>Data dictionary, baseline, boundary, metode, target, dan progress log.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">Kontrol</th>
<td>Dapatkah informasi diuji dan disetujui?</td>
<td>Data lineage, evidence log, review, rekonsiliasi, change log, dan sign-off.</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p>Evidence Map ini adalah alat diagnosis manajemen yang disusun Proxsis, bukan daftar persyaratan pengganti PSPK 2.</p>
<h2 id="roadmap-90">Roadmap Kesiapan 90 Hari</h2>
<h3>Hari 1–30: tetapkan boundary dan paparan</h3>
<p>Konfirmasi sponsor, struktur pengawasan, batas entitas, rantai nilai, lokasi aset, serta daftar risiko fisik, transisi, dan peluang. Inventarisasi data emisi, risiko, keuangan, target, capex, dan remunerasi yang tersedia. Gunakan <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/executive-sustainability-assessment/">Executive Sustainability Assessment</a> untuk membaca baseline organisasi tanpa mengklaim hasilnya sebagai opini kepatuhan.</p>
<h3>Hari 31–60: uji konektivitas</h3>
<p>Pilih beberapa risiko dan peluang prioritas. Petakan jalur dampak, hubungkan dengan ERM dan strategi, identifikasi implikasi keuangan, lalu uji kualitas data dan asumsi. Tentukan pendekatan analisis skenario yang sepadan dengan kondisi dan kemampuan perusahaan.</p>
<h3>Hari 61–90: dry run dan perbaikan kontrol</h3>
<p>Susun pengungkapan percobaan untuk empat konten inti. Lakukan walkthrough lintas fungsi, telusuri metrik ke sumber, uji konsistensi horizon waktu dan asumsi, dokumentasikan judgement, lalu susun backlog perbaikan yang memiliki owner dan target penyelesaian.</p>
<h2>Kesalahan yang Perlu Dihindari</h2>
<ul>
<li>Menyamakan climate disclosure dengan inventaris emisi saja.</li>
<li>Menyajikan risiko fisik dan transisi tanpa jalur dampak terhadap strategi dan prospek.</li>
<li>Memakai analisis skenario sebagai ilustrasi naratif tanpa input, asumsi, atau interpretasi yang terdokumentasi.</li>
<li>Mencampur gross emissions, target net-zero, dan rencana kredit karbon tanpa pemisahan yang jelas.</li>
<li>Mengandalkan keringanan transisi tanpa memeriksa standar final dan keputusan regulator yang relevan.</li>
</ul>
<h2>Pertanyaan yang Sering Diajukan</h2>
<h3>Apakah PSPK 2 sama dengan TCFD?</h3>
<p>PSPK 2 menggunakan empat area yang juga dikenal melalui TCFD, tetapi penerapan harus merujuk pada persyaratan PSPK 2. IFRS S2—rujukan PSPK 2—mengintegrasikan dan membangun di atas rekomendasi TCFD serta memasukkan panduan berbasis industri.</p>
<h3>Apakah analisis skenario harus berupa model kuantitatif kompleks?</h3>
<p>Pendekatan perlu sepadan dengan kondisi entitas. Kompleksitas bukan tujuan; perusahaan tetap harus menjelaskan metode, skenario, input, asumsi, horizon waktu, dan interpretasi ketahanan iklim.</p>
<h3>Apakah PSPK 2 mewajibkan perusahaan menetapkan target emisi baru?</h3>
<p>PSPK 2 mengatur pengungkapan kinerja terhadap target yang ditetapkan entitas atau diwajibkan oleh hukum atau regulasi. Artikel ini tidak menafsirkan standar sebagai kewajiban otomatis untuk menciptakan target baru; keputusan target memerlukan tata kelola dan analisis perusahaan.</p>
<aside class="ps-cta" aria-labelledby="cta-pspk2">
<h2 id="cta-pspk2">Mulai dari Kesiapan Data dan Proses</h2>
<p>Petakan sumber data, boundary, owner, kontrol, dan gap pengukuran sebelum dry run climate disclosure.</p>
<p>    <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-data-readiness-assessment/">Mulai Carbon Data Readiness Assessment</a><br />
  </aside>
<section class="ps-related" aria-labelledby="terkait-pspk2">
<h2 id="terkait-pspk2">Insight dan Assessment Terkait</h2>
<ul>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/insight/">Jelajahi Sustainability Insight Hub</a></li>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/executive-sustainability-assessment/">Uji baseline melalui Executive Sustainability Assessment</a></li>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/scope-1-2-3-emisi-pengertian-perbedaan-contoh/">Pahami Scope 1, 2, dan 3</a></li>
</ul>
</section>
<section class="ps-sources" aria-labelledby="sumber-pspk2">
<h2 id="sumber-pspk2">Sumber Rujukan</h2>
<ul>
<li><a href="https://web.iaiglobal.or.id/Berita-IAI/detail/dsk_iai_sahkan_standar_pengungkapan_keberlanjutan_pspk_1_dan_pspk_2" rel="nofollow noopener">Ikatan Akuntan Indonesia — Pengesahan PSPK 1 dan PSPK 2</a></li>
<li><a href="https://web.iaiglobal.or.id/assets/files/file_sak/exposure-draft/PSPK%202%20-%20Draf%20Eksposur.pdf" rel="nofollow noopener">DSK IAI — Draf Eksposur PSPK 2</a></li>
<li><a href="https://www.ifrs.org/issued-standards/ifrs-sustainability-standards-navigator/ifrs-s2-climate-related-disclosures/" rel="nofollow noopener">IFRS Foundation — IFRS S2 Climate-related Disclosures</a></li>
<li><a href="https://www.ifrs.org/supporting-implementation/supporting-materials-for-ifrs-sustainability-disclosure-standards/ifrs-s2/webcast-climate-resilience-scenario-analysis/" rel="nofollow noopener">IFRS Foundation — Climate resilience and scenario analysis</a></li>
</ul>
</section>
</article>
<aside class="ps-sr-training-bridge" style="padding:22px;border:1px solid #d5e4da;border-radius:12px;background:#f5f9f6;margin:28px 0">
<p><strong>Perkuat kemampuan tim dalam sustainability reporting.</strong> Mulai dari <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pelatihan-sustainability-report-dasar/">pelatihan dasar sustainability reporting</a> untuk memahami konsep dan kesiapan data, atau ikuti <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/training-sustainability-report/">Training Sustainability Report GRI &amp; OJK</a> untuk latihan pemetaan pengungkapan dan penyusunan bagian laporan. <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/training-sustainability-report/#form">Minta silabus dan penawaran</a> sesuai kebutuhan tim.</p>
</aside>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2/">PSPK 2 Adalah Standar Pengungkapan Iklim: Apa yang Berubah?</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PSPK 1 Adalah Fondasi Pengungkapan Keberlanjutan: Panduan Perusahaan</title>
		<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-1/</link>
					<comments>https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[hisyam]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2026 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ESG Reporting & Disclosure]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Materialitas]]></category>
		<category><![CDATA[PSPK 1]]></category>
		<category><![CDATA[Sustainability Disclosure]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sustainability.proxsisgroup.com/?p=1998</guid>

					<description><![CDATA[<p>PSPK 1 adalah standar umum pengungkapan keberlanjutan. Pahami materialitas, empat konten inti, informasi terhubung, dan langkah kesiapan.</p>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-1/">PSPK 1 Adalah Fondasi Pengungkapan Keberlanjutan: Panduan Perusahaan</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<article class="ps-article">
<figure class="ps-featured-media">
  <img fetchpriority="high" src="https://sustainability.proxsisgroup.com/wp-content/uploads/2026/09/cp-002-pspk-1.webp" alt="Ilustrasi struktur PSPK 1 untuk pengungkapan informasi keuangan terkait keberlanjutan" width="1200" height="630" loading="eager" decoding="async" fetchpriority="high"><br />
</figure>
<p class="ps-dek"><strong>PSPK 1 adalah</strong> standar yang menetapkan persyaratan umum pengungkapan informasi keuangan terkait keberlanjutan di Indonesia. Tujuannya adalah menyediakan informasi tentang risiko dan peluang keberlanjutan yang berguna bagi pengguna utama laporan informasi keuangan ketika mengambil keputusan penyediaan sumber daya kepada entitas. Standar ini efektif untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2027 dan digunakan bersama PSPK 2 untuk pengungkapan terkait iklim.</p>
<p class="ps-article-meta"><strong>Ditulis oleh: hisyam</strong> · Ditinjau 6 September 2026 oleh AI Specialist Agent — PSPK &amp; Reporting · Waktu baca: sekitar 11 menit</p>
<section class="ps-summary" aria-labelledby="ringkasan-pspk1">
<h2 id="ringkasan-pspk1">Ringkasan Eksekutif</h2>
<p>PSPK 1 menyatukan tiga lapis pekerjaan: menentukan informasi yang material, menjelaskan hubungan risiko dan peluang dengan prospek entitas, lalu menyajikan pengungkapan melalui empat konten inti—tata kelola, strategi, manajemen risiko, serta metrik dan target. IAI juga menempatkan persyaratan umum seperti lokasi dan waktu pelaporan, informasi komparatif, serta pernyataan kepatuhan di dalam standar ini.</p>
<p>Implikasinya, persiapan tidak dapat diserahkan hanya kepada tim penulis laporan. Finance, Sustainability, Risk, Strategy, Operations, Legal, Corporate Secretary, dan Internal Audit perlu membangun rantai bukti yang konsisten. Artikel ini menjelaskan kerangka kesiapan manajemen; penentuan kewajiban dan penerapan untuk entitas tertentu tetap harus merujuk pada naskah standar dan ketentuan regulator yang berlaku.</p>
</section>
<nav class="ps-toc" aria-label="Daftar isi">
    <strong>Daftar isi</strong></p>
<ol>
<li><a href="#fungsi-pspk1">Fungsi dan ruang lingkup PSPK 1</a></li>
<li><a href="#landasan-konseptual">Landasan konseptual</a></li>
<li><a href="#empat-konten-inti">Empat konten inti</a></li>
<li><a href="#disclosure-chain">PSPK 1 Disclosure Chain</a></li>
<li><a href="#langkah-kesiapan">Langkah kesiapan perusahaan</a></li>
</ol>
</nav>
<h2 id="fungsi-pspk1">Apa Fungsi dan Ruang Lingkup PSPK 1?</h2>
<p>DSK IAI mengesahkan PSPK 1 dan PSPK 2 pada 1 Juli 2025. Menurut IAI, PSPK 1 mengatur landasan konseptual, persyaratan umum, pertimbangan, ketidakpastian dan kesalahan. Standar ini berfokus pada risiko dan peluang terkait keberlanjutan yang diperkirakan cukup dapat memengaruhi prospek entitas. PSPK 2 kemudian menerapkan kerangka tersebut secara khusus pada risiko dan peluang terkait iklim.</p>
<p>Orientasi ini berbeda dari pengumpulan semua indikator ESG tanpa seleksi. Tim perlu menguji bagaimana suatu risiko atau peluang dapat berkaitan dengan arus kas, akses terhadap pembiayaan, atau biaya modal dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Penilaian itu bersifat spesifik terhadap fakta dan keadaan entitas, bukan daftar isu seragam untuk setiap perusahaan.</p>
<aside class="ps-insight" aria-labelledby="batas-penerapan">
<h3 id="batas-penerapan">Batas penting sebelum menerapkan</h3>
<p>Tanggal efektif standar tidak boleh diterjemahkan sebagai pernyataan bahwa setiap badan usaha memiliki kewajiban dan jadwal penerapan yang identik. Entitas perlu memeriksa keputusan regulator, ruang lingkup pelaporan, ketentuan transisi, dan naskah PSPK yang berlaku untuk kondisinya.</p>
</aside>
<h2 id="landasan-konseptual">Empat Landasan Konseptual yang Mengubah Cara Kerja Tim</h2>
<h3>Penyajian wajar</h3>
<p>Informasi perlu relevan dan merepresentasikan secara tepat apa yang dimaksudkan untuk direpresentasikan. Karakteristik pembanding seperti keterbandingan, keterverifikasian, ketepatan waktu, dan keterpahaman membantu pengguna menilai kualitas informasi. Konsekuensi praktisnya adalah definisi metrik, asumsi, sumber data, dan perubahan metode harus terdokumentasi.</p>
<h3>Materialitas</h3>
<p>Materialitas dalam PSPK 1 berorientasi pada keputusan pengguna utama laporan informasi keuangan. Informasi perlu dinilai berdasarkan apakah penghilangan, salah saji, atau pengaburannya diperkirakan cukup dapat memengaruhi keputusan pengguna. Karena itu, materialitas bukan sekadar skor survei stakeholder dan bukan pula ambang kuantitatif universal.</p>
<h3>Entitas pelapor</h3>
<p>Pengungkapan perlu memiliki batas pelaporan yang jelas dan konsisten dengan laporan keuangan terkait. Perusahaan juga harus memahami hubungan dengan rantai nilai ketika risiko atau peluang muncul di luar operasi langsung tetapi dapat memengaruhi prospek entitas.</p>
<h3>Informasi terhubung</h3>
<p>Pengguna perlu dapat memahami hubungan antarrisiko dan peluang, hubungan antarbagian pengungkapan, serta keterkaitan dengan laporan keuangan. Data keberlanjutan, narasi strategi, asumsi keuangan, dan keputusan alokasi modal tidak seharusnya saling bertentangan.</p>
<h2 id="empat-konten-inti">Empat Konten Inti PSPK 1</h2>
<ol>
<li><strong>Tata kelola:</strong> proses, kontrol, dan prosedur yang digunakan untuk mengawasi serta mengelola risiko dan peluang keberlanjutan.</li>
<li><strong>Strategi:</strong> bagaimana risiko dan peluang memengaruhi model bisnis, rantai nilai, strategi, pengambilan keputusan, serta prospek keuangan.</li>
<li><strong>Manajemen risiko:</strong> proses untuk mengidentifikasi, menilai, memprioritaskan, dan memantau risiko dan peluang, termasuk keterhubungannya dengan proses manajemen risiko keseluruhan.</li>
<li><strong>Metrik dan target:</strong> ukuran yang digunakan untuk memantau kinerja dan kemajuan terhadap target yang ditetapkan atau diwajibkan oleh hukum maupun regulasi.</li>
</ol>
<p>Empat bagian ini bukan empat narasi yang berdiri sendiri. Contohnya, risiko yang disebut material pada bagian strategi perlu memiliki pemilik, proses pemantauan, metrik, target bila relevan, dan bukti bagaimana dewan atau manajemen menjalankan pengawasan.</p>
<h2 id="disclosure-chain">PSPK 1 Disclosure Chain: Dari Keputusan ke Bukti</h2>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="PSPK 1 Disclosure Chain" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th scope="col">Tahap</th>
<th scope="col">Pertanyaan keputusan</th>
<th scope="col">Bukti yang perlu tersedia</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<th scope="row">1. Identifikasi</th>
<td>Risiko atau peluang apa yang dapat memengaruhi prospek?</td>
<td>Daftar isu, sumber identifikasi, horizon waktu, dan batas rantai nilai.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">2. Materialitas</th>
<td>Informasi apa yang dapat memengaruhi keputusan pengguna utama?</td>
<td>Metode, judgement, asumsi, keputusan inklusi atau eksklusi, dan pihak yang menyetujui.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">3. Konektivitas</th>
<td>Bagaimana isu terhubung dengan strategi dan angka keuangan?</td>
<td>Risk register, rencana bisnis, anggaran, capex, asumsi, dan rekonsiliasi.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">4. Pengukuran</th>
<td>Metrik apa yang mewakili paparan dan kinerja?</td>
<td>Data dictionary, boundary, metode, sumber, owner, frekuensi, dan kontrol.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">5. Pengungkapan</th>
<td>Apakah empat konten inti menceritakan satu rantai yang konsisten?</td>
<td>Draft disclosure, cross-reference, data lineage, dan catatan perubahan.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">6. Sign-off</th>
<td>Siapa meninjau ketepatan dan kecukupan bukti?</td>
<td>Review log, penyelesaian isu, persetujuan fungsi, dan pernyataan kepatuhan yang sah.</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p>Disclosure Chain ini adalah alat kerja yang disusun Proxsis untuk menguji keterhubungan proses. Ia bukan pengganti paragraf standar, interpretasi IAI, atau ketentuan regulator.</p>
<h2 id="langkah-kesiapan">Lima Langkah Kesiapan PSPK 1</h2>
<h3>1. Tetapkan sponsor dan mandat lintas fungsi</h3>
<p>Tentukan pengawasan, penanggung jawab program, pemilik keputusan, serta jalur eskalasi. RACI perlu membedakan siapa yang menghasilkan data, menilai materialitas, meninjau pengungkapan, dan memberi persetujuan.</p>
<h3>2. Lakukan gap assessment terhadap proses yang sudah ada</h3>
<p>Bandingkan laporan tahunan, laporan keberlanjutan, ERM, strategi, dan kontrol internal dengan komponen PSPK 1. Perusahaan dapat memulai dengan <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/executive-sustainability-assessment/">Executive Sustainability Assessment</a> untuk memetakan baseline manajemen, tanpa menganggap hasilnya sebagai opini kepatuhan.</p>
<h3>3. Pilot pada beberapa risiko dan peluang prioritas</h3>
<p>Pilih isu yang paling jelas hubungannya dengan prospek, kemudian telusuri dari keputusan materialitas sampai metrik dan bukti. Pilot yang sempit biasanya lebih berguna daripada inventarisasi indikator yang luas tetapi tidak dapat diverifikasi.</p>
<h3>4. Selaraskan kalender pelaporan</h3>
<p>IAI memasukkan lokasi dan waktu pelaporan serta informasi komparatif sebagai persyaratan umum. Tim perlu menyelaraskan cut-off, frekuensi data, review, dan sign-off dengan kalender laporan keuangan dan laporan tahunan.</p>
<h3>5. Jalankan dry run</h3>
<p>Susun pengungkapan percobaan, uji konsistensi antarbagian, telusuri sampel data ke sumbernya, dan catat judgement serta ketidakpastian. Dukungan <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/esg-reporting-assurance/">ESG Reporting &amp; Assurance</a> dapat diarahkan pada desain proses dan kesiapan bukti, bukan sekadar penyuntingan laporan di tahap akhir.</p>
<h2>Kesalahan yang Perlu Dihindari</h2>
<ul>
<li>Menyamakan daftar topik ESG yang luas dengan penilaian materialitas keuangan terkait keberlanjutan.</li>
<li>Menulis empat konten inti secara terpisah sehingga risiko, keputusan, metrik, dan angka keuangan tidak saling terhubung.</li>
<li>Menyatakan kepatuhan PSPK sebelum seluruh persyaratan yang relevan dinilai dan dipenuhi.</li>
<li>Menggunakan data agregat tanpa definisi, boundary, owner, bukti sumber, dan kontrol perubahan.</li>
<li>Menunggu periode pelaporan tanpa melakukan dry run dan penyelesaian gap lintas fungsi.</li>
</ul>
<h2>Pertanyaan yang Sering Diajukan</h2>
<h3>Kapan PSPK 1 mulai efektif?</h3>
<p>IAI menetapkan PSPK 1 efektif untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2027. Penerapan aktual oleh suatu entitas tetap harus mempertimbangkan ketentuan regulator dan naskah standar yang berlaku.</p>
<h3>Apakah PSPK 1 hanya membahas iklim?</h3>
<p>PSPK 1 memberikan persyaratan umum untuk risiko dan peluang terkait keberlanjutan. PSPK 2 secara khusus membahas iklim. Ketentuan transisi climate-first perlu dibaca langsung pada naskah PSPK sebelum perusahaan menentukan roadmap pelaporannya.</p>
<h3>Apakah laporan GRI otomatis memenuhi PSPK 1?</h3>
<p>Tidak otomatis. GRI dan PSPK dapat saling mendukung, tetapi tujuan pengguna, konsep materialitas, serta struktur pengungkapannya berbeda. Lihat juga <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menyusun-laporan-keberlanjutan-sustainability-report-sesuai-pojk-51-gri/">panduan laporan keberlanjutan POJK 51 dan GRI</a> untuk memahami konteks pelaporan yang sudah berjalan.</p>
<aside class="ps-cta" aria-labelledby="cta-pspk1">
<h2 id="cta-pspk1">Petakan Baseline Sebelum Menambah Sistem Baru</h2>
<p>Uji tata kelola, strategi, data, kontrol, dan kesiapan implementasi perusahaan melalui assessment yang sudah tersedia.</p>
<p>    <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/executive-sustainability-assessment/">Mulai Executive Sustainability Assessment</a><br />
  </aside>
<section class="ps-related" aria-labelledby="terkait-pspk1">
<h2 id="terkait-pspk1">Insight dan Solusi Terkait</h2>
<ul>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/insight/">Jelajahi Sustainability Insight Hub</a></li>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/esg-reporting-assurance/">Bangun proses ESG Reporting &amp; Assurance</a></li>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menyusun-laporan-keberlanjutan-sustainability-report-sesuai-pojk-51-gri/">Pelajari pelaporan keberlanjutan POJK 51 dan GRI</a></li>
</ul>
</section>
<section class="ps-sources" aria-labelledby="sumber-pspk1">
<h2 id="sumber-pspk1">Sumber Rujukan</h2>
<ul>
<li><a href="https://web.iaiglobal.or.id/Berita-IAI/detail/dsk_iai_sahkan_standar_pengungkapan_keberlanjutan_pspk_1_dan_pspk_2" rel="nofollow noopener">Ikatan Akuntan Indonesia — Pengesahan PSPK 1 dan PSPK 2</a></li>
<li><a href="https://web.iaiglobal.or.id/assets/files/file_sak/exposure-draft/PSPK%201%20-%20Draf%20Eksposur.pdf" rel="nofollow noopener">DSK IAI — Draf Eksposur PSPK 1</a></li>
<li><a href="https://www.ifrs.org/content/dam/ifrs/publications/html-standards-issb/english/2025/issued/issbs1.html" rel="nofollow noopener">IFRS Foundation — IFRS S1 General Requirements</a></li>
</ul>
</section>
</article>
<aside class="ps-sr-training-bridge" style="padding:22px;border:1px solid #d5e4da;border-radius:12px;background:#f5f9f6;margin:28px 0">
<p><strong>Perkuat kemampuan tim dalam sustainability reporting.</strong> Mulai dari <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pelatihan-sustainability-report-dasar/">pelatihan dasar sustainability reporting</a> untuk memahami konsep dan kesiapan data, atau ikuti <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/training-sustainability-report/">Training Sustainability Report GRI &amp; OJK</a> untuk latihan pemetaan pengungkapan dan penyusunan bagian laporan. <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/training-sustainability-report/#form">Minta silabus dan penawaran</a> sesuai kebutuhan tim.</p>
</aside>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-1/">PSPK 1 Adalah Fondasi Pengungkapan Keberlanjutan: Panduan Perusahaan</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Carbon Management Indonesia: Dari GHG Inventory ke Dekarbonisasi</title>
		<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-management/</link>
					<comments>https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-management/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[hisyam]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2026 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Carbon & GRK Accounting]]></category>
		<category><![CDATA[Carbon Management]]></category>
		<category><![CDATA[Dekarbonisasi]]></category>
		<category><![CDATA[GHG Inventory]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sustainability.proxsisgroup.com/?p=1996</guid>

					<description><![CDATA[<p>Carbon management menghubungkan inventaris emisi, tata kelola, target, investasi, dan pemantauan agar data karbon benar-benar menghasilkan keputusan dekarbonisasi.</p>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-management/">Carbon Management Indonesia: Dari GHG Inventory ke Dekarbonisasi</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><!-- The WordPress template owns the single page H1. Do not add an H1 here. --></p>
<article class="ps-article">
<figure class="ps-featured-media">
  <img fetchpriority="high" src="https://sustainability.proxsisgroup.com/wp-content/uploads/2026/09/cp-010-carbon-management.webp" alt="Ilustrasi alur carbon management dari inventaris emisi menuju dekarbonisasi" width="1200" height="630" loading="eager" decoding="async" fetchpriority="high"><br />
</figure>
<p class="ps-dek"><strong>Carbon management Indonesia</strong> adalah sistem lintas fungsi untuk mengubah data emisi menjadi keputusan bisnis: menentukan batas inventaris, memastikan kualitas data, memilih sumber emisi prioritas, menetapkan target, menjalankan program dekarbonisasi, dan memantau hasilnya. Inventaris GRK adalah fondasi, tetapi nilainya baru terlihat ketika angka tersebut terhubung dengan pemilik risiko, anggaran, pengadaan, operasi, serta tata kelola manajemen.</p>
<p class="ps-article-meta">Ditulis oleh: hisyam · Diterbitkan: menunggu jadwal · Terakhir ditinjau: menunggu SME · Waktu baca: 10 menit</p>
<section class="ps-summary" aria-labelledby="ringkasan-eksekutif">
<h2 id="ringkasan-eksekutif">Ringkasan Eksekutif</h2>
<p>Perusahaan sering berhenti setelah menyelesaikan carbon footprint tahunan. Padahal, carbon management membutuhkan siklus yang berulang: mandat yang jelas, batas perhitungan yang konsisten, inventaris yang dapat ditelusuri, analisis hotspot, target yang disetujui, portofolio aksi, serta kontrol kinerja. Dengan siklus ini, tim dapat membedakan perbaikan data dari penurunan emisi yang nyata dan mengarahkan investasi ke sumber dampak terbesar.</p>
</section>
<nav class="ps-toc" aria-label="Daftar isi">
    <strong>Daftar isi</strong></p>
<ol>
<li><a href="#mengapa-inventory-belum-cukup">Mengapa inventory belum cukup</a></li>
<li><a href="#operating-loop">Carbon Management Operating Loop</a></li>
<li><a href="#scope-dan-kualitas-data">Scope dan kualitas data</a></li>
<li><a href="#prioritas-dekarbonisasi">Menentukan prioritas dekarbonisasi</a></li>
<li><a href="#tingkat-kematangan">Menilai tingkat kematangan</a></li>
<li><a href="#roadmap-90-hari">Roadmap 90 hari</a></li>
<li><a href="#pertanyaan-umum">Pertanyaan umum</a></li>
</ol>
</nav>
<h2 id="mengapa-inventory-belum-cukup">Mengapa GHG inventory saja belum cukup?</h2>
<p>GHG inventory menjawab pertanyaan dasar: dari mana emisi perusahaan berasal dan berapa besarannya dalam periode tertentu. <a href="https://ghgprotocol.org/corporate-standard">GHG Protocol Corporate Standard</a> menyediakan kebutuhan dan panduan untuk menyusun inventaris emisi tingkat perusahaan. Namun, laporan inventaris tidak otomatis menentukan siapa yang harus bertindak, proyek mana yang harus didanai, atau bagaimana penurunan emisi dibuktikan.</p>
<p>Karena itu, manajemen karbon perlu diperlakukan sebagai proses bisnis, bukan pekerjaan pelaporan satu kali. Finance perlu memahami konsekuensi anggaran. Operations perlu memiliki indikator yang dapat dikendalikan. Procurement perlu mengelola data dan persyaratan pemasok. Risk dan Internal Audit perlu memastikan kontrol serta bukti. Sustainability berperan sebagai pengelola metode dan orkestrator, bukan satu-satunya pemilik hasil.</p>
<aside class="ps-insight">
    <strong>Prinsip kerja:</strong> angka emisi yang lebih presisi tidak selalu berarti emisi turun. Bedakan indikator kualitas inventaris, aktivitas dekarbonisasi, dan hasil emisi agar manajemen melihat kemajuan secara jujur.<br />
  </aside>
<h2 id="operating-loop">Carbon Management Operating Loop: tujuh tahap yang saling terhubung</h2>
<p>Kerangka berikut dapat digunakan untuk menyusun operating model yang berulang. Setiap tahap memiliki keputusan, pemilik, bukti, dan keluaran yang dapat diperiksa.</p>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Carbon Management Operating Loop" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th>Tahap</th>
<th>Pertanyaan manajemen</th>
<th>Keluaran minimum</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<td>1. Mandate</td>
<td>Siapa sponsor, pemilik keputusan, dan pemilik data?</td>
<td>Mandat, RACI, dan forum keputusan.</td>
</tr>
<tr>
<td>2. Boundary</td>
<td>Entitas, operasi, periode, dan sumber emisi apa yang dicakup?</td>
<td>Batas organisasi dan operasional terdokumentasi.</td>
</tr>
<tr>
<td>3. Inventory</td>
<td>Data aktivitas, faktor emisi, asumsi, dan kontrol apa yang digunakan?</td>
<td>Inventaris dengan jejak audit dan catatan kualitas.</td>
</tr>
<tr>
<td>4. Insight</td>
<td>Hotspot, risiko, biaya, dan ketidakpastian terbesar ada di mana?</td>
<td>Analisis kontribusi serta daftar prioritas.</td>
</tr>
<tr>
<td>5. Target</td>
<td>Arah, horizon waktu, baseline, dan indikator apa yang disetujui?</td>
<td>Target dan guardrail pengambilan keputusan.</td>
</tr>
<tr>
<td>6. Action</td>
<td>Inisiatif apa yang layak secara dampak, biaya, dan kemampuan eksekusi?</td>
<td>Portofolio aksi, business case, dan owner.</td>
</tr>
<tr>
<td>7. Control &amp; Review</td>
<td>Bagaimana progres, perubahan metode, dan deviasi dikendalikan?</td>
<td>Dashboard, review berkala, dan bukti persetujuan.</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p>Loop ini sengaja tidak berakhir pada publikasi laporan. Hasil review masuk kembali ke boundary dan inventory ketika struktur organisasi, sumber data, faktor emisi, atau model bisnis berubah. Dengan begitu, sistem tetap dapat dibandingkan antartahun tanpa menutup mata terhadap perubahan yang material.</p>
<h2 id="scope-dan-kualitas-data">Mengelola Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 tanpa kehilangan kendali</h2>
<p>Scope 1 umumnya mencakup emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan. Scope 2 berkaitan dengan emisi dari energi yang dibeli; <a href="https://ghgprotocol.org/scope-2-guidance">Scope 2 Guidance</a> menjelaskan metode dan kualitas instrumen yang relevan. Scope 3 mencakup emisi tidak langsung lain dalam rantai nilai. Panduan GHG Protocol membagi Scope 3 ke dalam 15 kategori dan menyediakan metode perhitungan untuk membantu perusahaan memilih pendekatan yang proporsional.</p>
<p>Perusahaan tidak perlu menunggu semua data menjadi sempurna untuk mulai mengelola emisi. Yang diperlukan adalah transparansi tingkat kualitas: data primer atau estimasi, periode cakupan, sumber faktor emisi, metode alokasi, asumsi, serta siapa yang menyetujui perubahan. Prioritas penguatan data sebaiknya mengikuti materialitas emisi dan kebutuhan keputusan, bukan sekadar mengejar kelengkapan administratif.</p>
<p>Bagi tim yang belum yakin apakah sumber data, kontrol, dan ownership sudah memadai, <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-data-readiness-assessment/">Carbon Data Readiness Assessment</a> dapat menjadi titik awal diagnosis. Untuk konsep dasar perhitungan, gunakan panduan <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menghitung-jejak-karbon-carbon-footprint-perusahaan-di-indonesia/">cara menghitung carbon footprint perusahaan</a> dan artikel untuk <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/scope-1-2-3-emisi-pengertian-perbedaan-contoh/">memahami Scope 1, Scope 2, dan Scope 3</a>.</p>
<h2 id="prioritas-dekarbonisasi">Dari hotspot menuju prioritas dekarbonisasi</h2>
<p>Hotspot analysis menunjukkan sumber emisi terbesar, tetapi ukuran emisi bukan satu-satunya kriteria keputusan. Portofolio dekarbonisasi perlu menilai setidaknya lima dimensi: potensi pengurangan, kebutuhan investasi, biaya operasional, kelayakan implementasi, dan kualitas bukti. Tambahkan ketergantungan pemasok, dampak pada layanan, serta risiko perubahan teknologi jika relevan.</p>
<p>Hindari mencampur pengurangan emisi aktual dengan perubahan metode perhitungan. Misalnya, pergantian faktor emisi atau perbaikan data aktivitas dapat mengubah inventaris tanpa perubahan operasi. Dashboard sebaiknya memisahkan efek metodologi, perubahan volume bisnis, efisiensi, peralihan energi, dan tindakan lain. Pemisahan ini membantu Direksi menilai apakah program menghasilkan dampak yang diharapkan.</p>
<p>Setiap inisiatif perlu memiliki baseline, formula perhitungan manfaat, milestone, owner, anggaran, risiko, dan bukti. Inisiatif yang terlihat menarik tetapi tidak memiliki akses data atau pemilik operasional sebaiknya tidak langsung masuk komitmen eksternal. Susun eksperimen terbatas terlebih dahulu, ukur hasilnya, lalu perluas setelah asumsi utama terbukti.</p>
<h2 id="tingkat-kematangan">Matriks tingkat kematangan carbon management</h2>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Tingkat kematangan carbon management" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th>Level</th>
<th>Ciri utama</th>
<th>Fokus peningkatan berikutnya</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<td>1. Ad hoc</td>
<td>Data tersebar, batas berubah, proses bergantung pada individu.</td>
<td>Tetapkan sponsor, boundary, dan data owner.</td>
</tr>
<tr>
<td>2. Repeatable</td>
<td>Inventaris dapat diulang, tetapi kontrol dan keputusan belum konsisten.</td>
<td>Bangun SOP, kamus data, dan review berkala.</td>
</tr>
<tr>
<td>3. Managed</td>
<td>Hotspot, target, dan portofolio aksi terhubung dengan owner.</td>
<td>Integrasikan anggaran, risiko, dan procurement.</td>
</tr>
<tr>
<td>4. Integrated</td>
<td>Indikator karbon menjadi bagian keputusan operasi dan investasi.</td>
<td>Perkuat assurance readiness dan skenario.</td>
</tr>
<tr>
<td>5. Adaptive</td>
<td>Sistem cepat menyesuaikan perubahan bisnis, data, dan teknologi.</td>
<td>Optimalkan portofolio berbasis bukti dan pembelajaran.</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p>Matriks ini bukan sertifikasi. Gunakan sebagai alat diskusi lintas fungsi untuk menemukan kesenjangan paling membatasi. Organisasi dapat berada pada level berbeda untuk tiap scope atau unit bisnis. Tujuannya bukan mengejar label tertinggi, melainkan membangun kemampuan yang sesuai dengan keputusan dan risiko perusahaan.</p>
<h2 id="roadmap-90-hari">Roadmap 90 hari untuk membangun fondasi</h2>
<h3>Hari 1–30: selaraskan mandat dan baseline</h3>
<ul>
<li>Tetapkan sponsor eksekutif, koordinator, dan data owner lintas fungsi.</li>
<li>Dokumentasikan boundary, sumber emisi, periode, metode, serta asumsi saat ini.</li>
<li>Petakan kualitas data dan kebutuhan keputusan yang paling mendesak.</li>
<li>Pilih dua sampai tiga hotspot untuk dianalisis lebih dalam.</li>
</ul>
<h3>Hari 31–60: bangun prioritas dan kontrol</h3>
<ul>
<li>Susun kamus data, kontrol pengumpulan, serta alur persetujuan perubahan.</li>
<li>Nilai opsi dekarbonisasi berdasarkan dampak, biaya, risiko, dan kelayakan.</li>
<li>Tetapkan indikator kualitas data, aktivitas, dan hasil emisi secara terpisah.</li>
<li>Buat business case awal untuk inisiatif prioritas.</li>
</ul>
<h3>Hari 61–90: uji operating rhythm</h3>
<ul>
<li>Jalankan satu siklus review manajemen dengan dashboard dan exception log.</li>
<li>Uji bukti pendukung dari sumber data hingga angka yang dilaporkan.</li>
<li>Putuskan inisiatif yang dilanjutkan, diperbaiki, atau dihentikan.</li>
<li>Susun backlog peningkatan data dan rencana kerja 12 bulan.</li>
</ul>
<h2 id="pertanyaan-umum">Pertanyaan umum</h2>
<h3>Apakah carbon management sama dengan menghitung carbon footprint?</h3>
<p>Tidak. Carbon footprint adalah keluaran inventarisasi emisi untuk batas dan periode tertentu. Carbon management mencakup tata kelola, target, portofolio tindakan, investasi, kontrol, pemantauan, dan proses review yang menggunakan inventaris tersebut.</p>
<h3>Haruskah perusahaan langsung menghitung seluruh Scope 3?</h3>
<p>Pendekatan perlu disesuaikan dengan materialitas dan tujuan keputusan. Screening dapat digunakan untuk mengenali kategori yang berpotensi signifikan, lalu kualitas data ditingkatkan secara bertahap pada area prioritas. Klaim eksternal harus tetap menjelaskan boundary, metode, dan keterbatasan.</p>
<h3>Siapa pemilik carbon management?</h3>
<p>Sponsor biasanya berada di tingkat eksekutif, sementara ownership operasional tersebar di fungsi yang mengendalikan sumber emisi dan keputusan. Tim Sustainability mengelola metode dan koordinasi; Finance, Operations, Procurement, Risk, IT, dan Internal Audit memiliki peran sesuai proses serta kontrolnya.</p>
<aside class="ps-cta" aria-labelledby="cta-title">
<h2 id="cta-title">Ukur kesiapan data sebelum memperbesar komitmen</h2>
<p>Petakan kekuatan dan celah pada boundary, ownership, kualitas data, kontrol, serta penggunaan informasi karbon untuk menentukan prioritas peningkatan yang realistis.</p>
<p>    <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-data-readiness-assessment/">Mulai Carbon Data Readiness Assessment</a><br />
  </aside>
<section class="ps-related" aria-labelledby="related-title">
<h2 id="related-title">Insight dan Solusi Terkait</h2>
<ul>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-esg-management-solutions/">Pelajari Carbon &amp; ESG Management Solutions</a></li>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/insight/">Jelajahi Sustainability Insight Hub</a></li>
</ul>
</section>
<section class="ps-sources" aria-labelledby="sources-title">
<h2 id="sources-title">Sumber Rujukan</h2>
<ul>
<li><a href="https://ghgprotocol.org/corporate-standard">GHG Protocol — Corporate Standard</a></li>
<li><a href="https://ghgprotocol.org/scope-2-guidance">GHG Protocol — Scope 2 Guidance</a></li>
<li><a href="https://ghgprotocol.org/scope-3-calculation-guidance-2">GHG Protocol — Scope 3 Calculation Guidance</a></li>
</ul>
</section>
</article>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-management/">Carbon Management Indonesia: Dari GHG Inventory ke Dekarbonisasi</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-management/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PSPK 1 dan PSPK 2: Panduan Persiapan Perusahaan Menuju 1 Januari 2027</title>
		<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2027/</link>
					<comments>https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2027/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[hisyam]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2026 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ESG Reporting & Disclosure]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[PSPK 1]]></category>
		<category><![CDATA[PSPK 2]]></category>
		<category><![CDATA[Sustainability Disclosure]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sustainability.proxsisgroup.com/?p=1994</guid>

					<description><![CDATA[<p>Panduan PSPK 1 dan PSPK 2 untuk menilai kesiapan tata kelola, data, risiko, metrik, kontrol, dan pelaporan perusahaan menuju 1 Januari 2027.</p>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2027/">PSPK 1 dan PSPK 2: Panduan Persiapan Perusahaan Menuju 1 Januari 2027</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<article class="ps-article">
<figure class="ps-featured-media">
  <img fetchpriority="high" src="https://sustainability.proxsisgroup.com/wp-content/uploads/2026/09/cp-001-pspk-2027.webp" alt="Ilustrasi alur kesiapan data dan pelaporan perusahaan untuk PSPK 2027" width="1200" height="630" loading="eager" decoding="async" fetchpriority="high"><br />
</figure>
<p class="ps-dek"><strong>PSPK 1 dan PSPK 2</strong> adalah fondasi Standar Pengungkapan Keberlanjutan Indonesia yang efektif pada 1 Januari 2027. Persiapan perusahaan bukan sekadar menambah bab pada laporan tahunan. Organisasi perlu menyatukan tata kelola, proses identifikasi risiko dan peluang, data lintas fungsi, metrik, kontrol, serta jadwal pelaporan agar informasi keberlanjutan dapat digunakan bersama informasi keuangan.</p>
<p class="ps-article-meta"><strong>Ditulis oleh: hisyam</strong> · Ditinjau 6 September 2026 oleh AI Specialist Agent — PSPK &amp; Reporting · Waktu baca: sekitar 10 menit</p>
<section class="ps-summary" aria-labelledby="ringkasan-eksekutif">
<h2 id="ringkasan-eksekutif">Ringkasan Eksekutif</h2>
<p>Ikatan Akuntan Indonesia menetapkan PSPK 1 tentang persyaratan umum pengungkapan informasi keuangan terkait keberlanjutan dan PSPK 2 tentang pengungkapan terkait iklim, keduanya efektif 1 Januari 2027. Karena standar ini konvergen dengan IFRS Sustainability Disclosure Standards, perusahaan perlu memperlakukan pengungkapan keberlanjutan sebagai bagian dari sistem informasi untuk pengambilan keputusan investor, bukan sebagai narasi komunikasi yang berdiri sendiri.</p>
<p>Langkah praktisnya adalah menjalankan asesmen kesiapan pada enam workstream: tata kelola, materialitas finansial, risiko dan peluang, data dan metrik, kontrol dan assurance, serta integrasi proses pelaporan. Ruang lingkup penerapan dan interpretasi teknis tetap perlu dikonfirmasi dengan pihak yang kompeten dan ketentuan terbaru yang relevan bagi perusahaan.</p>
</section>
<nav class="ps-toc" aria-label="Daftar isi">
    <strong>Daftar isi</strong></p>
<ol>
<li><a href="#apa-itu-pspk">Apa itu PSPK 1 dan PSPK 2?</a></li>
<li><a href="#mengapa-persiapan">Mengapa persiapan perlu dimulai dari sistem?</a></li>
<li><a href="#readiness-map">PSPK Readiness Map</a></li>
<li><a href="#roadmap">Roadmap 30/60/90 hari</a></li>
<li><a href="#kesalahan">Kesalahan yang perlu dihindari</a></li>
</ol>
</nav>
<h2 id="apa-itu-pspk">Apa Itu PSPK 1 dan PSPK 2?</h2>
<p>PSPK 1 mengatur kerangka umum untuk mengungkapkan informasi keuangan terkait keberlanjutan. Fokusnya adalah informasi mengenai risiko dan peluang keberlanjutan yang relevan bagi prospek perusahaan dan berguna bagi pengguna laporan keuangan bertujuan umum. PSPK 2 melengkapi kerangka tersebut dengan persyaratan yang khusus membahas risiko dan peluang terkait iklim.</p>
<p>Keduanya dirancang untuk digunakan sebagai satu sistem. Perusahaan tidak cukup hanya mengumpulkan data emisi. Tim juga perlu menjelaskan bagaimana dewan dan manajemen mengawasi isu tersebut, bagaimana risiko masuk ke proses manajemen risiko, dampaknya terhadap strategi, serta metrik dan target yang digunakan untuk memantau kinerja.</p>
<p>IAI menyatakan kedua standar efektif pada 1 Januari 2027. Namun, tanggal efektif tidak boleh diterjemahkan sebagai klaim bahwa setiap entitas memiliki ruang lingkup dan kewajiban yang identik. Penilaian penerapan harus mempertimbangkan ketentuan terbaru, karakteristik entitas, dan arahan regulator yang relevan. Artikel ini adalah panduan kesiapan manajemen, bukan opini akuntansi atau hukum.</p>
<h2 id="mengapa-persiapan">Mengapa Persiapan PSPK Perlu Dimulai dari Sistem, Bukan dari Penulisan Laporan?</h2>
<p>Laporan adalah keluaran terakhir. Sebelum angka dan narasi dapat ditulis, perusahaan harus mengetahui siapa yang memiliki data, definisi apa yang digunakan, seberapa sering data diperbarui, bagaimana perubahan diperiksa, dan siapa yang menyetujui informasi tersebut. Jika pekerjaan baru dimulai ketika musim pelaporan tiba, tim akan cenderung mengandalkan spreadsheet terpisah, rekonsiliasi manual, dan penjelasan yang sulit ditelusuri.</p>
<p>IFRS S1 dan IFRS S2, yang menjadi basis konvergensi PSPK, menempatkan informasi keberlanjutan dekat dengan kebutuhan pengguna laporan keuangan. Konsekuensinya, Sustainability tidak bisa bekerja sendiri. Finance, Risk, Strategy, Operations, Procurement, HR, Legal, Internal Audit, dan Corporate Secretary perlu memiliki pembagian peran yang jelas.</p>
<aside class="ps-insight" aria-labelledby="makna-perusahaan">
<h3 id="makna-perusahaan">Apa Artinya bagi Perusahaan Indonesia?</h3>
<p>Kesenjangan terbesar biasanya bukan ketiadaan satu angka, melainkan ketidakjelasan hubungan antara isu keberlanjutan, dampaknya terhadap prospek bisnis, keputusan manajemen, dan bukti data. Karena itu, asesmen awal sebaiknya menguji rantai informasi dari sumber data sampai persetujuan laporan.</p>
</aside>
<h2 id="readiness-map">PSPK Readiness Map: Enam Workstream yang Perlu Diuji</h2>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Matriks kesiapan PSPK" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th scope="col">Workstream</th>
<th scope="col">Pertanyaan utama</th>
<th scope="col">Bukti awal</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<th scope="row">1. Tata kelola</th>
<td>Siapa mengawasi risiko dan peluang keberlanjutan, dan bagaimana keputusan dieskalasikan?</td>
<td>Mandat komite, RACI, agenda rapat, dan jalur persetujuan.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">2. Materialitas finansial</th>
<td>Isu apa yang secara wajar dapat memengaruhi arus kas, akses pembiayaan, atau biaya modal?</td>
<td>Daftar isu, metode penilaian, horizon waktu, dan alasan prioritas.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">3. Risiko, peluang, dan strategi</th>
<td>Bagaimana isu terhubung dengan ERM, strategi, anggaran, dan rencana bisnis?</td>
<td>Risk register, scenario assumptions, keputusan investasi, dan respons strategis.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">4. Data dan metrik</th>
<td>Apakah definisi, boundary, pemilik, frekuensi, dan sumber data konsisten?</td>
<td>Data dictionary, data lineage, daftar metrik, sumber sistem, dan kalkulasi.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">5. Kontrol dan assurance</th>
<td>Bisakah angka dan pernyataan ditelusuri, diuji, dan direkonsiliasi?</td>
<td>Kontrol preventif/detektif, evidence log, rekonsiliasi, dan catatan perubahan.</td>
</tr>
<tr>
<th scope="row">6. Integrasi pelaporan</th>
<td>Apakah jadwal dan tanggung jawab disclosure selaras dengan financial close?</td>
<td>Kalender pelaporan, template disclosure, review gate, dan sign-off.</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p>Readiness Map ini adalah alat diagnosis awal, bukan daftar persyaratan pengganti standar. Hasilnya sebaiknya berupa register gap yang menunjukkan dampak, pemilik, bukti yang tersedia, keputusan yang diperlukan, dan target penyelesaian. Dengan cara ini, manajemen dapat membedakan gap yang berisiko tinggi dari pekerjaan dokumentasi yang relatif sederhana.</p>
<h2 id="roadmap">Roadmap Persiapan 30/60/90 Hari</h2>
<h3>30 hari pertama: tetapkan ruang lingkup dan baseline</h3>
<p>Bentuk steering group lintas fungsi, konfirmasi sponsor eksekutif, inventarisasi sumber data, dan petakan proses pelaporan yang sudah ada. Bandingkan kondisi tersebut dengan struktur PSPK 1 dan PSPK 2 menggunakan daftar gap yang memiliki owner. Pada tahap ini, prioritaskan keputusan ruang lingkup dan isu yang berpotensi material; jangan langsung membeli platform sebelum kebutuhan dan aliran datanya dipahami.</p>
<h3>Hari 31–60: uji data, proses, dan keterhubungan</h3>
<p>Pilih beberapa disclosure prioritas untuk pilot. Telusuri data dari sumber operasional sampai angka agregat, uji definisi dan boundary, lalu hubungkan hasilnya dengan risk register, strategi, dan anggaran. Gunakan temuan untuk memperbaiki data dictionary serta pembagian peran. Bila kesiapan data karbon masih belum jelas, perusahaan dapat memakai <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-data-readiness-assessment/">Carbon Data Readiness Assessment</a> sebagai pemeriksaan awal yang terpisah dari penilaian kepatuhan.</p>
<h3>Hari 61–90: lakukan dry run dan perbaiki kontrol</h3>
<p>Susun disclosure percobaan menggunakan data yang tersedia, lalu minta tim Finance, Risk, Sustainability, dan Internal Audit menilai konsistensi, keterlacakan, serta kecukupan bukti. Dry run bertujuan menemukan gap sebelum periode pelaporan, bukan menghasilkan dokumen publik prematur. Catat asumsi dan area yang masih memerlukan keputusan SME atau regulator.</p>
<h2 id="kesalahan">Lima Kesalahan yang Perlu Dihindari</h2>
<ol>
<li><strong>Memperlakukan PSPK sebagai proyek Sustainability saja.</strong> Data dan keputusan tersebar lintas fungsi.</li>
<li><strong>Menyalin struktur IFRS tanpa memeriksa konteks Indonesia.</strong> Konvergensi tidak menghapus kebutuhan membaca standar dan ketentuan lokal yang berlaku.</li>
<li><strong>Mengumpulkan semua data tanpa prioritas.</strong> Mulailah dari risiko dan peluang yang relevan bagi prospek bisnis.</li>
<li><strong>Mengabaikan data lineage dan kontrol.</strong> Angka yang terlihat rapi belum tentu dapat ditelusuri atau diuji.</li>
<li><strong>Menunggu laporan tahunan berikutnya.</strong> Kesenjangan tata kelola dan data membutuhkan keputusan lintas fungsi yang tidak dapat diselesaikan dalam beberapa hari.</li>
</ol>
<h2>Pertanyaan yang Sering Diajukan</h2>
<h3>Kapan PSPK 1 dan PSPK 2 efektif?</h3>
<p>IAI menetapkan PSPK 1 dan PSPK 2 efektif pada 1 Januari 2027. Perusahaan tetap perlu memeriksa ketentuan terbaru dan ruang lingkup penerapan yang relevan bagi entitasnya.</p>
<h3>Apakah PSPK sama dengan laporan keberlanjutan berbasis GRI?</h3>
<p>Keduanya dapat saling mendukung, tetapi memiliki tujuan dan audiens yang tidak identik. PSPK berfokus pada informasi keuangan terkait keberlanjutan yang relevan bagi pengguna laporan keuangan bertujuan umum. GRI berfokus pada dampak organisasi terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat. Pemetaan interoperabilitas perlu dilakukan tanpa menganggap satu laporan otomatis memenuhi seluruh kebutuhan lainnya.</p>
<h3>Siapa yang seharusnya memimpin program kesiapan?</h3>
<p>Sponsor eksekutif dapat berada di Finance, Corporate Secretary, atau fungsi lain sesuai tata kelola perusahaan. Yang terpenting adalah mandat lintas fungsi, keterlibatan Sustainability dan Risk, serta jalur keputusan yang jelas.</p>
<aside class="ps-cta" aria-labelledby="cta-pspk">
<h2 id="cta-pspk">Mulai dari Baseline Kesiapan yang Terukur</h2>
<p>Sebelum checklist PSPK khusus tersedia, gunakan penilaian eksekutif Proxsis untuk memetakan kondisi awal tata kelola, strategi, data, dan implementasi keberlanjutan perusahaan.</p>
<p>    <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/executive-sustainability-assessment/">Mulai Executive Sustainability Assessment</a><br />
  </aside>
<section class="ps-related" aria-labelledby="terkait-pspk">
<h2 id="terkait-pspk">Insight dan Solusi Terkait</h2>
<ul>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/insight/">Jelajahi Sustainability Insight Hub</a></li>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/esg-reporting-assurance/">Siapkan proses ESG Reporting &amp; Assurance</a></li>
<li><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menyusun-laporan-keberlanjutan-sustainability-report-sesuai-pojk-51-gri/">Panduan menyusun laporan keberlanjutan sesuai POJK 51 dan GRI</a></li>
</ul>
</section>
<section class="ps-sources" aria-labelledby="sumber-pspk">
<h2 id="sumber-pspk">Sumber Rujukan</h2>
<ul>
<li><a href="https://web.iaiglobal.or.id/Berita-IAI/detail/standar_pengungkapan_keberlanjutan_efektif_per_1_januari_2027" rel="nofollow noopener">Ikatan Akuntan Indonesia — Standar Pengungkapan Keberlanjutan Efektif Per 1 Januari 2027</a></li>
<li><a href="https://web.iaiglobal.or.id/Berita-IAI/detail/dsk_iai_sahkan_standar_pengungkapan_keberlanjutan_pspk_1_dan_pspk_2" rel="nofollow noopener">Ikatan Akuntan Indonesia — Pengesahan PSPK 1 dan PSPK 2</a></li>
<li><a href="https://www.ifrs.org/issued-standards/ifrs-sustainability-standards-navigator/ifrs-s1-general-requirements/" rel="nofollow noopener">IFRS Foundation — IFRS S1 General Requirements</a></li>
<li><a href="https://www.ifrs.org/sustainability/knowledge-hub/introduction-to-issb-and-ifrs-sustainability-disclosure-standards/" rel="nofollow noopener">IFRS Foundation — Introduction to the ISSB and IFRS Sustainability Disclosure Standards</a></li>
<li><a href="https://www.globalreporting.org/standards/" rel="nofollow noopener">Global Reporting Initiative — GRI Standards</a></li>
</ul>
</section>
</article>
<aside class="ps-sr-training-bridge" style="padding:22px;border:1px solid #d5e4da;border-radius:12px;background:#f5f9f6;margin:28px 0">
<p><strong>Perkuat kemampuan tim dalam sustainability reporting.</strong> Mulai dari <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pelatihan-sustainability-report-dasar/">pelatihan dasar sustainability reporting</a> untuk memahami konsep dan kesiapan data, atau ikuti <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/training-sustainability-report/">Training Sustainability Report GRI &amp; OJK</a> untuk latihan pemetaan pengungkapan dan penyusunan bagian laporan. <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/training-sustainability-report/#form">Minta silabus dan penawaran</a> sesuai kebutuhan tim.</p>
</aside>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2027/">PSPK 1 dan PSPK 2: Panduan Persiapan Perusahaan Menuju 1 Januari 2027</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sustainability.proxsisgroup.com/pspk-2027/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Scope 1, Scope 2, Scope 3 Emisi: Panduan Lengkap untuk Perusahaan</title>
		<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/scope-1-2-3-emisi-pengertian-perbedaan-contoh/</link>
					<comments>https://sustainability.proxsisgroup.com/scope-1-2-3-emisi-pengertian-perbedaan-contoh/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[hisyam]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2026 01:06:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Carbon & GRK Accounting]]></category>
		<category><![CDATA[GHG Protocol]]></category>
		<category><![CDATA[Scope 1]]></category>
		<category><![CDATA[Scope 2]]></category>
		<category><![CDATA[Scope 3]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sustainability.proxsisgroup.com/scope-1-2-3-emisi-pengertian-perbedaan-contoh/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Panduan membedakan Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 berdasarkan ownership, control, energi yang diperoleh, serta aktivitas hulu dan hilir rantai nilai.</p>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/scope-1-2-3-emisi-pengertian-perbedaan-contoh/">Scope 1, Scope 2, Scope 3 Emisi: Panduan Lengkap untuk Perusahaan</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><!-- Update package for WordPress post 1787. The template owns the H1. --></p>
<article class="ps-article">
<figure class="ps-featured-media">
  <img fetchpriority="high" src="https://sustainability.proxsisgroup.com/wp-content/uploads/2026/09/cp-012-scope-1-2-3.webp" alt="Perbandingan Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 emisi GRK perusahaan" width="1200" height="630" loading="eager" decoding="async" fetchpriority="high"><br />
</figure>
<p class="ps-dek"><strong>Scope 1, Scope 2, Scope 3</strong> adalah klasifikasi emisi gas rumah kaca berdasarkan hubungan sumber emisi dengan organisasi. Scope 1 mencakup emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan. Scope 2 mencakup emisi dari pembangkitan energi yang diperoleh dan dikonsumsi. Scope 3 mencakup emisi tidak langsung lain yang terjadi pada sumber milik atau kendali entitas lain di sepanjang rantai nilai.</p>
<p class="ps-article-meta">Ditulis oleh: hisyam · Ditinjau oleh AI SME Carbon/GHG · Pembaruan dijadwalkan: September 2026 · Waktu baca: 11 menit</p>
<section class="ps-summary" aria-labelledby="ringkasan-eksekutif">
<h2 id="ringkasan-eksekutif">Ringkasan Eksekutif</h2>
<p>Cara paling aman mengklasifikasikan emisi adalah memulai dari organizational boundary, ownership, dan control. Jika sumber berada dalam boundary serta dimiliki atau dikendalikan perusahaan, emisinya umumnya Scope 1. Jika perusahaan memperoleh dan mengonsumsi listrik, steam, heat, atau cooling, emisi pembangkitannya masuk Scope 2. Emisi tidak langsung lain dari aktivitas hulu dan hilir perusahaan masuk Scope 3. Setelah klasifikasi, simpan bukti, asumsi, serta pemilik data agar keputusan dapat ditinjau ulang.</p>
</section>
<nav class="ps-toc" aria-label="Daftar isi">
    <strong>Daftar isi</strong></p>
<ol>
<li><a href="#mengapa-scope">Mengapa klasifikasi scope penting</a></li>
<li><a href="#scope-1">Scope 1</a></li>
<li><a href="#scope-2">Scope 2</a></li>
<li><a href="#scope-3">Scope 3</a></li>
<li><a href="#decision-tree">Decision tree klasifikasi</a></li>
<li><a href="#ownership">Ownership data</a></li>
<li><a href="#kesalahan">Kesalahan umum</a></li>
<li><a href="#faq">Pertanyaan umum</a></li>
</ol>
</nav>
<h2 id="mengapa-scope">Mengapa klasifikasi Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 penting?</h2>
<p><a href="https://ghgprotocol.org/corporate-standard">GHG Protocol Corporate Standard</a> menyediakan persyaratan dan panduan untuk inventaris GRK tingkat perusahaan. Pemisahan scope membuat organisasi dapat membedakan emisi langsung, emisi dari energi yang diperoleh, dan emisi rantai nilai. Pemisahan ini membantu penetapan data owner, pemilihan metode, pelaporan yang transparan, dan identifikasi pihak yang memiliki kendali atau pengaruh terhadap pengurangan emisi.</p>
<p>Scope bukan label berdasarkan “mudah” atau “sulit” dihitung. Klasifikasi juga tidak ditentukan oleh lokasi fisik emisi semata. Sebuah sumber yang berada di area pabrik belum tentu Scope 1 jika aset tersebut bukan milik atau kendali perusahaan dalam organizational boundary yang dipilih. Sebaliknya, emisi dari bahan bakar pada kendaraan milik perusahaan dapat menjadi Scope 1 walaupun kendaraan bergerak di luar lokasi perusahaan.</p>
<aside class="ps-insight">
    <strong>Catatan perbandingan:</strong> GHG Protocol Scope 3 Standard dirancang untuk membandingkan emisi satu perusahaan dari waktu ke waktu. Standar tersebut tidak dirancang untuk perbandingan langsung antarperusahaan tanpa konsistensi metode, data, boundary, dan metrik tambahan.<br />
  </aside>
<h2 id="scope-1">Scope 1: emisi langsung dari sumber milik atau kendali perusahaan</h2>
<p>Scope 1 mencakup emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan dalam boundary inventaris. Contohnya meliputi pembakaran bahan bakar pada boiler atau genset, bahan bakar kendaraan operasional, emisi dari proses produksi, serta kebocoran refrigeran. Apakah sebuah sumber dikendalikan harus dinilai konsisten dengan pendekatan konsolidasi yang dipilih, bukan hanya berdasarkan siapa yang membayar tagihan.</p>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Contoh sumber Scope 1" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th>Jenis sumber</th>
<th>Contoh</th>
<th>Data yang biasanya diperlukan</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<td>Stationary combustion</td>
<td>Boiler, furnace, genset</td>
<td>Jenis dan jumlah bahan bakar</td>
</tr>
<tr>
<td>Mobile combustion</td>
<td>Kendaraan yang dimiliki atau dikendalikan</td>
<td>Bahan bakar atau jarak dan karakteristik kendaraan</td>
</tr>
<tr>
<td>Process emissions</td>
<td>Reaksi kimia pada proses industri</td>
<td>Produksi, bahan baku, atau parameter proses</td>
</tr>
<tr>
<td>Fugitive emissions</td>
<td>Kebocoran refrigeran atau gas</td>
<td>Penambahan, recovery, kapasitas, dan jenis refrigeran</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p>Kesalahan yang sering terjadi adalah melupakan refrigeran, menganggap semua kendaraan yang digunakan otomatis Scope 1, atau memasukkan listrik yang dibeli sebagai emisi langsung. Untuk sumber sewa dan outsourcing, kontrak serta operational control harus ditinjau; klasifikasi tidak dapat diputuskan hanya dari nama pemasok.</p>
<h2 id="scope-2">Scope 2: emisi dari energi yang diperoleh dan dikonsumsi</h2>
<p><a href="https://ghgprotocol.org/scope-2-guidance">GHG Protocol Scope 2 Guidance</a> menjelaskan emisi dari pembangkitan listrik, steam, heat, dan cooling yang diperoleh serta dikonsumsi perusahaan. Emisi terjadi di fasilitas pemasok energi, tetapi dialokasikan sebagai Scope 2 bagi organisasi yang memperoleh dan menggunakan energi tersebut.</p>
<p>Guidance tersebut membedakan pendekatan location-based dan market-based pada kondisi yang relevan. Location-based menggunakan karakteristik rata-rata sistem energi pada wilayah konsumsi. Market-based mencerminkan emisi dari pilihan pemasok atau instrumen kontraktual yang memenuhi kriteria kualitas. Ketersediaan data atau instrumen tidak boleh diasumsikan. Tim perlu mencatat sumber faktor, tahun, wilayah, metode, unit, dan bukti kontraktual yang digunakan.</p>
<p>Angka faktor emisi grid dapat berubah menurut tahun dan sistem interkoneksi. Karena itu, jangan menyalin satu angka tanpa label waktu dan wilayah. Simpan publikasi sumber, versi, tanggal akses, serta log perubahan agar hasil antartahun dapat dijelaskan.</p>
<h2 id="scope-3">Scope 3: emisi tidak langsung lain dalam rantai nilai</h2>
<p><a href="https://ghgprotocol.org/corporate-value-chain-scope-3-standard">Corporate Value Chain (Scope 3) Standard</a> mengelompokkan emisi rantai nilai ke dalam 15 kategori hulu dan hilir. Emisi tersebut terjadi dari sumber milik atau kendali entitas lain, tetapi merupakan konsekuensi aktivitas perusahaan. Besar kontribusinya berbeda menurut industri dan model bisnis; tidak tepat menggunakan persentase tunggal untuk semua perusahaan.</p>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Lima belas kategori Scope 3" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th>Hulu: kategori 1–8</th>
<th>Hilir: kategori 9–15</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<td>1. Purchased goods and services</td>
<td>9. Downstream transportation and distribution</td>
</tr>
<tr>
<td>2. Capital goods</td>
<td>10. Processing of sold products</td>
</tr>
<tr>
<td>3. Fuel- and energy-related activities</td>
<td>11. Use of sold products</td>
</tr>
<tr>
<td>4. Upstream transportation and distribution</td>
<td>12. End-of-life treatment of sold products</td>
</tr>
<tr>
<td>5. Waste generated in operations</td>
<td>13. Downstream leased assets</td>
</tr>
<tr>
<td>6. Business travel</td>
<td>14. Franchises</td>
</tr>
<tr>
<td>7. Employee commuting</td>
<td>15. Investments</td>
</tr>
<tr>
<td>8. Upstream leased assets</td>
<td>—</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p><a href="https://ghgprotocol.org/scope-3-calculation-guidance-2">Scope 3 Calculation Guidance</a> menyediakan metode, sumber data, dan contoh untuk setiap kategori. Screening dapat membantu menemukan kategori yang berpotensi signifikan. Setelah itu, kualitas data dapat ditingkatkan secara bertahap pada kategori yang paling relevan untuk keputusan dan target.</p>
<h2 id="decision-tree">Decision tree untuk mencegah salah klasifikasi</h2>
<ol>
<li><strong>Apakah aktivitas berada dalam organizational boundary?</strong> Jika tidak, evaluasi apakah aktivitas tersebut termasuk rantai nilai Scope 3.</li>
<li><strong>Apakah sumber emisi dimiliki atau dikendalikan?</strong> Jika ya, emisi langsungnya umumnya Scope 1.</li>
<li><strong>Apakah perusahaan memperoleh dan mengonsumsi listrik, steam, heat, atau cooling?</strong> Jika ya, emisi pembangkitannya masuk Scope 2.</li>
<li><strong>Apakah aktivitas merupakan emisi tidak langsung lain dari rantai nilai?</strong> Petakan ke salah satu dari 15 kategori Scope 3.</li>
<li><strong>Apakah terdapat sewa, franchise, investasi, atau outsourcing?</strong> Tinjau pendekatan konsolidasi, kontrak, dan batas minimum kategori sebelum menetapkan scope.</li>
</ol>
<p>Decision tree adalah alat awal. Kasus kompleks tetap perlu merujuk definisi dan minimum boundary dalam standar yang berlaku. Dokumentasikan keputusan klasifikasi, bukti kontrak, dan alasan agar penilaian dapat diulang oleh reviewer lain.</p>
<h2 id="ownership">Siapa pemilik data untuk setiap scope?</h2>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Matriks ownership data scope emisi" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th>Area</th>
<th>Contoh data owner</th>
<th>Bukti minimum</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<td>Scope 1 bahan bakar</td>
<td>Operations, Fleet, Facility</td>
<td>Invoice, meter, log penggunaan</td>
</tr>
<tr>
<td>Scope 1 refrigeran</td>
<td>Facility, Engineering</td>
<td>Service log, top-up, recovery record</td>
</tr>
<tr>
<td>Scope 2 energi</td>
<td>Facility, Procurement, Finance</td>
<td>Invoice, meter, kontrak, faktor</td>
</tr>
<tr>
<td>Scope 3 pembelian</td>
<td>Procurement, Finance, Supplier Management</td>
<td>Purchase ledger dan data pemasok</td>
</tr>
<tr>
<td>Scope 3 perjalanan</td>
<td>HR, Travel, Finance</td>
<td>Booking, expense, jarak dan moda</td>
</tr>
<tr>
<td>Scope 3 produk</td>
<td>Product, Sales, Supply Chain</td>
<td>Volume, karakteristik penggunaan, distribusi</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p>Sustainability sebaiknya menjaga metode, data dictionary, kontrol, dan konsolidasi. Namun, fungsi yang mengendalikan aktivitas harus tetap bertanggung jawab atas data dan tindakan. <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-data-readiness-assessment/">Carbon Data Readiness Assessment</a> membantu memetakan apakah ownership, bukti, dan kontrol tersebut telah tersedia.</p>
<h2 id="kesalahan">Tujuh kesalahan klasifikasi yang perlu dihindari</h2>
<ul>
<li>Menentukan scope hanya dari lokasi fisik sumber emisi.</li>
<li>Menganggap semua aset sewa selalu Scope 3 tanpa menilai organizational boundary dan control.</li>
<li>Memasukkan emisi pembangkitan listrik yang dibeli sebagai Scope 1.</li>
<li>Mengabaikan refrigeran karena tidak muncul pada tagihan energi.</li>
<li>Menggunakan angka faktor grid tanpa tahun, wilayah, unit, dan sumber.</li>
<li>Menganggap Scope 3 selalu memiliki persentase yang sama pada semua industri.</li>
<li>Menyatakan hasil antarperusahaan langsung dapat dibandingkan walau boundary dan metode berbeda.</li>
</ul>
<p>Setelah klasifikasi disepakati, lanjutkan dengan panduan <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menghitung-jejak-karbon-carbon-footprint-perusahaan-di-indonesia/">cara menghitung carbon footprint perusahaan</a>. Untuk menghubungkan inventaris dengan governance, target, dan portofolio dekarbonisasi, lihat <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-esg-management-solutions/">Carbon &amp; ESG Management Solutions</a> dan materi pada <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/insight/">Sustainability Insight Hub</a>.</p>
<h2 id="faq">Pertanyaan umum</h2>
<h3>Apakah Scope 3 selalu wajib dilaporkan?</h3>
<p>Persyaratan bergantung pada standar atau program yang diklaim dan ketentuan yurisdiksi yang berlaku. Corporate Standard dan Scope 3 Standard memiliki cakupan persyaratan yang berbeda. Jangan menyatakan “wajib” atau “sukarela” tanpa menyebut basis standar dan konteksnya.</p>
<h3>Apakah listrik panel surya milik sendiri menjadi Scope 2?</h3>
<p>Emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan dinilai menurut Scope 1, sedangkan Scope 2 terkait energi yang diperoleh dan dikonsumsi. Perlakuan instrumen energi serta atribut kontraktual harus mengikuti Scope 2 Guidance dan fakta kepemilikan sistem.</p>
<h3>Apakah angka Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 boleh dijumlahkan?</h3>
<p>Organisasi dapat menampilkan total tertentu bila boundary dan metode dijelaskan, tetapi setiap scope harus tetap disajikan terpisah agar pembaca memahami sumbernya. Hindari membandingkan total lintas perusahaan tanpa konsistensi boundary, metode, data, dan metrik.</p>
<aside class="ps-cta" aria-labelledby="cta-title">
<h2 id="cta-title">Pastikan ownership dan klasifikasi emisi sudah jelas</h2>
<p>Petakan sumber, data owner, bukti, dan kontrol untuk Scope 1, Scope 2, serta Scope 3 sebelum memperluas inventaris.</p>
<p>    <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-data-readiness-assessment/">Mulai Carbon Data Readiness Assessment</a><br />
  </aside>
<section class="ps-sources" aria-labelledby="sources-title">
<h2 id="sources-title">Sumber Rujukan</h2>
<ul>
<li><a href="https://ghgprotocol.org/corporate-standard">GHG Protocol — Corporate Standard</a></li>
<li><a href="https://ghgprotocol.org/scope-2-guidance">GHG Protocol — Scope 2 Guidance</a></li>
<li><a href="https://ghgprotocol.org/corporate-value-chain-scope-3-standard">GHG Protocol — Corporate Value Chain (Scope 3) Standard</a></li>
<li><a href="https://ghgprotocol.org/scope-3-calculation-guidance-2">GHG Protocol — Scope 3 Calculation Guidance</a></li>
</ul>
</section>
</article>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/scope-1-2-3-emisi-pengertian-perbedaan-contoh/">Scope 1, Scope 2, Scope 3 Emisi: Panduan Lengkap untuk Perusahaan</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sustainability.proxsisgroup.com/scope-1-2-3-emisi-pengertian-perbedaan-contoh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Menyusun Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) sesuai POJK 51 &#038; GRI</title>
		<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menyusun-laporan-keberlanjutan-sustainability-report-sesuai-pojk-51-gri/</link>
					<comments>https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menyusun-laporan-keberlanjutan-sustainability-report-sesuai-pojk-51-gri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[hisyam]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2026 05:55:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ESG Reporting & Disclosure]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sustainability.proxsisgroup.com/?p=1762</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menyusun laporan keberlanjutan (sustainability report) kini menjadi kebutuhan strategis sekaligus kewajiban bagi banyak perusahaan di Indonesia, khususnya emiten dan lembaga jasa keuangan. Panduan ini menjelaskan cara menyusun laporan keberlanjutan yang kredibel — sesuai POJK 51/OJK, kerangka GRI, dan arah standar global ISSB/IFRS S1-S2 — beserta langkah praktis dan peran assurance. Apa itu Laporan Keberlanjutan? Laporan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menyusun-laporan-keberlanjutan-sustainability-report-sesuai-pojk-51-gri/">Cara Menyusun Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) sesuai POJK 51 &#038; GRI</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Menyusun <strong>laporan keberlanjutan (sustainability report)</strong> kini menjadi kebutuhan strategis sekaligus kewajiban bagi banyak perusahaan di Indonesia, khususnya emiten dan lembaga jasa keuangan. Panduan ini menjelaskan cara menyusun laporan keberlanjutan yang kredibel — sesuai <strong>POJK 51/OJK</strong>, kerangka <strong>GRI</strong>, dan arah standar global <strong>ISSB/IFRS S1-S2</strong> — beserta langkah praktis dan peran assurance.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa itu Laporan Keberlanjutan?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Laporan keberlanjutan adalah dokumen yang mengungkapkan kinerja perusahaan pada aspek Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) secara transparan kepada pemangku kepentingan. Laporan ini mengomunikasikan dampak, risiko, peluang, serta target keberlanjutan perusahaan dalam satu periode pelaporan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kerangka dan Regulasi yang Wajib Dipahami</h2>



<h3 class="wp-block-heading">POJK 51/OJK</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Peraturan OJK (POJK 51/POJK.03/2017) mewajibkan lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik menyusun Laporan Keberlanjutan. Regulasi ini menjadi titik awal kepatuhan pelaporan ESG di Indonesia.</p>



<h3 class="wp-block-heading">GRI Standards</h3>



<p class="wp-block-paragraph">GRI (Global Reporting Initiative) adalah kerangka pelaporan keberlanjutan yang paling banyak digunakan secara global, berbasis prinsip materialitas dan pelibatan pemangku kepentingan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">ISSB / IFRS S1 &amp; S2</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Standar ISSB (IFRS S1 dan S2) mengarahkan pengungkapan keberlanjutan dan iklim yang relevan bagi investor. Perusahaan Indonesia yang berorientasi pasar modal global perlu mulai menyelaraskan diri dengan standar ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">6 Langkah Menyusun Laporan Keberlanjutan</h2>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Komitmen dan tata kelola:</strong> tetapkan dukungan manajemen dan tim penyusun lintas fungsi.</li>



<li><strong>Penilaian materialitas (materiality assessment):</strong> identifikasi isu ESG yang paling signifikan bagi bisnis dan pemangku kepentingan.</li>



<li><strong>Pengumpulan data ESG:</strong> kumpulkan data lingkungan (termasuk <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menghitung-jejak-karbon-carbon-footprint-perusahaan-di-indonesia/">jejak karbon/GRK</a>), sosial, dan tata kelola.</li>



<li><strong>Pemilihan kerangka dan indikator:</strong> petakan pengungkapan ke GRI, POJK 51, dan/atau ISSB.</li>



<li><strong>Penulisan dan desain laporan:</strong> susun narasi yang jujur, berbasis data, dan mudah dipahami.</li>



<li><strong>Assurance independen:</strong> lakukan penjaminan pihak ketiga untuk meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan investor.</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Pentingnya Penilaian Materialitas</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Materialitas adalah inti laporan keberlanjutan yang baik. Tanpa penilaian materialitas yang tepat, laporan berisiko menjadi sekadar formalitas dan rentan tuduhan <em>greenwashing</em>. Pendekatan <strong>double materiality</strong> — menilai dampak perusahaan terhadap lingkungan/sosial sekaligus dampak isu keberlanjutan terhadap keuangan perusahaan — semakin menjadi praktik terbaik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Assurance Laporan Keberlanjutan Penting?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Assurance independen memastikan data dan klaim dalam laporan dapat dipertanggungjawabkan. Bagi investor dan regulator, laporan yang telah di-assurance memiliki kredibilitas jauh lebih tinggi dan mengurangi risiko reputasi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)</h2>



<h3 class="wp-block-heading">Apakah laporan keberlanjutan wajib di Indonesia?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, bagi lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik, POJK 51 mewajibkan penyusunan Laporan Keberlanjutan secara berkala.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Apa perbedaan GRI, POJK 51, dan ISSB?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">POJK 51 adalah regulasi nasional, GRI adalah kerangka pelaporan global berbasis materialitas, dan ISSB (IFRS S1-S2) adalah standar pengungkapan yang berfokus pada relevansi bagi investor. Ketiganya dapat saling melengkapi.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Berapa lama proses menyusun laporan keberlanjutan?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Bergantung pada kesiapan data, umumnya 2-4 bulan, mencakup penilaian materialitas, pengumpulan data, penulisan, dan assurance.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Susun Laporan Keberlanjutan yang Kredibel Bersama Proxsis</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Proxsis Sustainability mendampingi perusahaan menyusun laporan keberlanjutan sesuai POJK 51, GRI, dan ISSB, lengkap dengan <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/esg-reporting-assurance/">layanan ESG Reporting &amp; Assurance</a>. Tingkatkan pemahaman tim Anda melalui <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pelatihan-esg/">Pelatihan ESG</a>, atau <a href="https://wa.me/628119334859?text=Halo%20Desi%20%E2%80%94%20CS%20Proxsis%20Sustainability%2C%20saya%20tertarik%20konsultasi%20penyusunan%20laporan%20keberlanjutan">konsultasikan kebutuhan pelaporan keberlanjutan Anda</a> dengan tim kami.</p>

<aside class="ps-sr-training-bridge" style="padding:22px;border:1px solid #d5e4da;border-radius:12px;background:#f5f9f6;margin:28px 0"><p><strong>Perkuat kemampuan tim dalam sustainability reporting.</strong> Mulai dari <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/pelatihan-sustainability-report-dasar/">pelatihan dasar sustainability reporting</a> untuk memahami konsep dan kesiapan data, atau ikuti <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/training-sustainability-report/">Training Sustainability Report GRI &amp; OJK</a> untuk latihan pemetaan pengungkapan dan penyusunan bagian laporan. <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/training-sustainability-report/#form">Minta silabus dan penawaran</a> sesuai kebutuhan tim.</p></aside><p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menyusun-laporan-keberlanjutan-sustainability-report-sesuai-pojk-51-gri/">Cara Menyusun Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) sesuai POJK 51 &#038; GRI</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menyusun-laporan-keberlanjutan-sustainability-report-sesuai-pojk-51-gri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Menghitung Carbon Footprint Perusahaan: Panduan GHG Inventory</title>
		<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menghitung-jejak-karbon-carbon-footprint-perusahaan-di-indonesia/</link>
					<comments>https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menghitung-jejak-karbon-carbon-footprint-perusahaan-di-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[hisyam]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2026 05:53:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Carbon & GRK Accounting]]></category>
		<category><![CDATA[Carbon Footprint]]></category>
		<category><![CDATA[Faktor Emisi]]></category>
		<category><![CDATA[GHG Inventory]]></category>
		<category><![CDATA[Scope 1 2 3]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sustainability.proxsisgroup.com/?p=1760</guid>

					<description><![CDATA[<p>Panduan praktis menyusun inventaris GRK perusahaan secara tertelusur, dari boundary dan data aktivitas hingga faktor emisi, kontrol kualitas, dan pelaporan.</p>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menghitung-jejak-karbon-carbon-footprint-perusahaan-di-indonesia/">Cara Menghitung Carbon Footprint Perusahaan: Panduan GHG Inventory</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><!-- Update package for WordPress post 1760. The template owns the H1. --></p>
<article class="ps-article">
<figure class="ps-featured-media">
  <img fetchpriority="high" src="https://sustainability.proxsisgroup.com/wp-content/uploads/2026/06/Cara-Menghitung-Jejak-Karbon-Carbon-Footprint-Perusahaan-di-Indonesia.webp" alt="Panduan menghitung carbon footprint dan inventaris GRK perusahaan" width="1200" height="630" loading="eager" decoding="async" fetchpriority="high"><br />
</figure>
<p class="ps-dek"><strong>Cara menghitung carbon footprint</strong> perusahaan yang dapat dipertanggungjawabkan bukan sekadar mengalikan konsumsi energi dengan sebuah faktor emisi. Prosesnya dimulai dengan menentukan tujuan dan batas inventaris, mengidentifikasi sumber emisi, mengumpulkan data aktivitas, memilih faktor emisi yang sesuai, menghitung setiap gas rumah kaca, lalu menjalankan kontrol kualitas dan melaporkan hasil secara transparan.</p>
<p class="ps-article-meta">Ditulis oleh: hisyam · Ditinjau oleh AI SME Carbon/GHG · Pembaruan dijadwalkan: September 2026 · Waktu baca: 11 menit</p>
<section class="ps-summary" aria-labelledby="ringkasan-eksekutif">
<h2 id="ringkasan-eksekutif">Ringkasan Eksekutif</h2>
<p>Inventaris GRK yang baik menjawab empat pertanyaan: organisasi dan operasi mana yang masuk boundary, data apa yang digunakan, metode serta faktor emisi apa yang dipilih, dan kontrol apa yang membuat angka dapat ditelusuri. Hasil Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 perlu dilaporkan terpisah. Perubahan data, faktor, struktur perusahaan, dan metode juga harus terdokumentasi agar tren antartahun tidak menyesatkan.</p>
</section>
<nav class="ps-toc" aria-label="Daftar isi">
    <strong>Daftar isi</strong></p>
<ol>
<li><a href="#definisi">Apa yang dihitung</a></li>
<li><a href="#delapan-langkah">Delapan langkah perhitungan</a></li>
<li><a href="#register-data">Register data minimum</a></li>
<li><a href="#rumus">Rumus dan faktor emisi</a></li>
<li><a href="#kontrol-kualitas">Kontrol kualitas</a></li>
<li><a href="#kesalahan-umum">Kesalahan umum</a></li>
<li><a href="#faq">Pertanyaan umum</a></li>
</ol>
</nav>
<h2 id="definisi">Apa yang dimaksud carbon footprint perusahaan?</h2>
<p>Dalam konteks artikel ini, carbon footprint perusahaan adalah inventaris emisi gas rumah kaca pada tingkat organisasi untuk periode dan boundary tertentu, dinyatakan dalam ton setara karbon dioksida. <a href="https://ghgprotocol.org/corporate-standard">GHG Protocol Corporate Standard</a> memberikan persyaratan dan panduan bagi perusahaan serta organisasi lain yang menyusun inventaris GRK tingkat korporasi.</p>
<p>Inventaris organisasi berbeda dari jejak karbon produk. Inventaris organisasi mengonsolidasikan emisi operasi dan rantai nilai perusahaan. Jejak karbon produk mengikuti siklus hidup produk tertentu. Karena objek dan boundary-nya berbeda, perusahaan perlu menyebutkan dengan jelas jenis footprint yang dihitung sebelum memilih data dan metode.</p>
<aside class="ps-insight">
    <strong>Prinsip utama:</strong> angka tanpa boundary, periode, sumber faktor emisi, dan catatan asumsi bukan inventaris yang siap digunakan untuk keputusan atau assurance.<br />
  </aside>
<h2 id="delapan-langkah">Delapan langkah cara menghitung carbon footprint perusahaan</h2>
<h3>1. Tetapkan tujuan penggunaan inventaris</h3>
<p>Tentukan apakah inventaris akan digunakan untuk pengelolaan internal, pelaporan eksternal, pengadaan, penetapan target, atau kebutuhan program tertentu. Tujuan tersebut memengaruhi tingkat detail, kontrol, dan bukti yang diperlukan. Jangan menganggap satu metode otomatis memenuhi semua program; setiap regulator, pelanggan, atau standar pelaporan dapat memiliki ketentuan tambahan.</p>
<h3>2. Tetapkan organizational boundary</h3>
<p>Identifikasi entitas, anak perusahaan, joint operation, fasilitas, dan aktivitas yang relevan. Corporate Standard menjelaskan pendekatan equity share serta control, termasuk financial control dan operational control. Pilih pendekatan yang sesuai dengan tujuan inventaris, dokumentasikan alasannya, dan terapkan secara konsisten. Daftar entitas yang masuk dan dikecualikan harus dapat ditelusuri.</p>
<h3>3. Tetapkan operational boundary</h3>
<p>Klasifikasikan sumber emisi ke Scope 1, Scope 2, dan Scope 3. Scope 1 mencakup emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan. Scope 2 mencakup emisi dari pembangkitan energi yang diperoleh dan dikonsumsi perusahaan, sesuai rincian pada <a href="https://ghgprotocol.org/scope-2-guidance">GHG Protocol Scope 2 Guidance</a>. Scope 3 mencakup emisi tidak langsung lain dalam rantai nilai.</p>
<p>Jika tim masih mencampur kepemilikan aset, pembelian energi, dan aktivitas rantai nilai, gunakan panduan untuk <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/scope-1-2-3-emisi-pengertian-perbedaan-contoh/">memahami Scope 1, Scope 2, dan Scope 3</a> sebelum membangun lembar perhitungan.</p>
<h3>4. Buat source register dan tentukan pemilik data</h3>
<p>Petakan setiap sumber emisi ke data aktivitas, unit, sistem sumber, lokasi, periode, data owner, approver, dan bukti. Contohnya adalah pembelian bahan bakar, pemakaian listrik, penambahan refrigeran, jarak perjalanan, massa limbah, atau nilai pembelian. Register ini mencegah data terlewat dan membantu tim membedakan data aktual, estimasi, serta proxy.</p>
<h3>5. Kumpulkan dan normalisasi data aktivitas</h3>
<p>Samakan satuan sebelum perhitungan dan jangan menghapus data mentah. Simpan file sumber, waktu ekstraksi, aturan konversi, serta alasan estimasi. Lakukan rekonsiliasi dengan dokumen yang independen bila tersedia, misalnya konsumsi bahan bakar terhadap catatan pembelian, listrik terhadap invoice dan meter, atau perjalanan terhadap sistem pemesanan.</p>
<h3>6. Pilih faktor emisi dan nilai GWP</h3>
<p>Pilih faktor yang cocok dengan jenis aktivitas, lokasi, teknologi, bahan bakar, periode, dan unit. Catat penerbit, judul dataset, tahun, versi, cakupan gas, serta satuan. Jangan mencampur faktor dalam kg CO2 per unit dengan faktor dalam kg CO2e per unit tanpa memahami gas yang sudah dicakup. Daftar <a href="https://ghgprotocol.org/calculation-tools-and-guidance">GHG Protocol Calculation Tools and Guidance</a> menekankan bahwa perhitungan merupakan proses bertahap dan membutuhkan perhatian pada data aktivitas serta quality control sebelum estimasi dilakukan.</p>
<h3>7. Hitung emisi per sumber dan per gas</h3>
<p>Bentuk paling sederhana adalah data aktivitas dikalikan faktor emisi. Untuk sumber yang menghasilkan beberapa gas, hitung massa setiap gas lalu konversikan ke CO2e menggunakan nilai global warming potential yang ditetapkan untuk inventaris tersebut. Pertahankan angka sebelum pembulatan di working paper dan lakukan pembulatan hanya pada keluaran pelaporan.</p>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Contoh struktur kalkulasi emisi" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th>Elemen</th>
<th>Contoh isi</th>
<th>Kontrol minimum</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<td>Sumber</td>
<td>Boiler, kendaraan, listrik, refrigeran, pembelian</td>
<td>ID unik dan scope</td>
</tr>
<tr>
<td>Data aktivitas</td>
<td>Liter, kWh, kg, km, ton, nilai belanja</td>
<td>Sumber, periode, owner</td>
</tr>
<tr>
<td>Faktor emisi</td>
<td>Faktor sesuai aktivitas dan geografi</td>
<td>Penerbit, tahun, versi, unit</td>
</tr>
<tr>
<td>Hasil</td>
<td>Emisi per gas dan tCO2e</td>
<td>Formula terkunci dan review</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<h3>8. Konsolidasikan, review, dan laporkan</h3>
<p>Agregasikan hasil per entitas, fasilitas, sumber, dan scope tanpa menghilangkan detail. Laporkan Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 secara terpisah, beserta boundary, metode, sumber faktor, periode, pengecualian, ketidakpastian material, dan kebijakan base year. Kredit atau offset tidak digunakan untuk mengurangi total inventaris scope; instrumen tersebut dilaporkan terpisah sesuai aturan program yang digunakan.</p>
<h2 id="register-data">Register data minimum yang perlu dimiliki</h2>
<div class="ps-table-wrap" role="region" aria-label="Register data inventaris GRK" tabindex="0">
<table>
<thead>
<tr>
<th>Kolom</th>
<th>Tujuan</th>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<td>Entity, site, source ID</td>
<td>Menjaga kelengkapan dan mencegah duplikasi.</td>
</tr>
<tr>
<td>Scope dan kategori</td>
<td>Menentukan posisi sumber dalam operational boundary.</td>
</tr>
<tr>
<td>Data activity, unit, period</td>
<td>Menjaga konsistensi input dan periode.</td>
</tr>
<tr>
<td>System/source document</td>
<td>Menyediakan jejak audit ke bukti asli.</td>
</tr>
<tr>
<td>Data owner dan approver</td>
<td>Menetapkan akuntabilitas.</td>
</tr>
<tr>
<td>Emission factor reference</td>
<td>Merekam penerbit, tahun, versi, unit, dan geografi.</td>
</tr>
<tr>
<td>Assumption dan quality flag</td>
<td>Membedakan aktual, estimasi, proxy, dan gap.</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p><a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-data-readiness-assessment/">Carbon Data Readiness Assessment</a> dapat digunakan untuk memetakan apakah boundary, ownership, data, dan kontrol dasar sudah tersedia sebelum organisasi memperluas cakupan inventaris.</p>
<h2 id="rumus">Cara menggunakan rumus tanpa menyesatkan</h2>
<p>Rumus “data aktivitas × faktor emisi” adalah titik awal, bukan keseluruhan metode. Untuk refrigeran, proses industri, listrik, transportasi, dan Scope 3, jenis input serta formula dapat berbeda. Satu faktor emisi juga tidak selalu dapat dipakai lintas tahun atau wilayah. Karena itu, working paper perlu memisahkan input, faktor, formula, hasil, dan review status.</p>
<p>Untuk Scope 3, gunakan kategori dan metode yang sesuai dengan <a href="https://ghgprotocol.org/corporate-value-chain-scope-3-standard">Corporate Value Chain (Scope 3) Standard</a>. Screening boleh membantu menentukan prioritas pengumpulan data, tetapi hasil screening tidak boleh disajikan seolah-olah memiliki kualitas yang sama dengan data primer tanpa penjelasan.</p>
<h2 id="kontrol-kualitas">Checklist kontrol kualitas sebelum hasil digunakan</h2>
<ul>
<li>Semua entity dan site dalam boundary memiliki status lengkap atau alasan pengecualian.</li>
<li>Unit input dan faktor emisi konsisten serta formula konversi terdokumentasi.</li>
<li>Perubahan besar dibanding periode sebelumnya dijelaskan melalui activity driver atau perubahan metode.</li>
<li>Duplicate record, missing month, nilai negatif, dan outlier sudah diuji.</li>
<li>Versi faktor emisi dan GWP dikunci untuk satu siklus pelaporan.</li>
<li>Preparer dan reviewer berbeda untuk area material, bila struktur tim memungkinkan.</li>
<li>Scope totals, pengecualian, dan keterbatasan dapat ditelusuri ke working paper.</li>
</ul>
<h2 id="kesalahan-umum">Kesalahan yang paling sering merusak inventaris</h2>
<p>Kesalahan umum adalah memulai dari spreadsheet tanpa source register, memakai faktor emisi dari cuplikan internet tanpa versi, mencampur unit, mengabaikan kebocoran refrigeran, dan mengganti boundary tanpa kebijakan recalculation. Kesalahan lain adalah menganggap Scope 3 selalu harus dihitung dengan satu metode atau memaksakan data primer pada seluruh kategori sejak awal.</p>
<p>Bangun inventaris secara proporsional: prioritaskan sumber material, dokumentasikan kualitas data, dan tingkatkan metode secara terencana. Untuk menghubungkan inventaris dengan target, portofolio aksi, dan review manajemen, lihat <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-esg-management-solutions/">Carbon &amp; ESG Management Solutions</a>. Materi lain tersedia di <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/insight/">Sustainability Insight Hub</a>.</p>
<h2 id="faq">Pertanyaan umum</h2>
<h3>Apakah perusahaan harus menghitung Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 sekaligus?</h3>
<p>Corporate Standard mensyaratkan Scope 1 dan Scope 2 untuk inventaris yang dinyatakan sesuai dengan standar tersebut, sedangkan pendekatan Scope 3 bergantung pada standar atau program yang digunakan. Organisasi tetap perlu melakukan screening rantai nilai agar keputusan boundary Scope 3 memiliki dasar.</p>
<h3>Apakah faktor emisi yang lebih baru selalu boleh menggantikan faktor lama?</h3>
<p>Faktor perlu sesuai dengan periode, geografi, teknologi, dan tujuan inventaris. Perubahan faktor dapat memengaruhi tren; dokumentasikan versi dan evaluasi apakah base year atau data pembanding perlu dihitung ulang sesuai kebijakan yang dipilih.</p>
<h3>Apakah hasil carbon footprint sama dengan pengurangan emisi?</h3>
<p>Tidak. Inventaris mengukur emisi dalam boundary dan periode tertentu. Pengurangan harus dibuktikan dengan perbandingan yang konsisten serta analisis perubahan aktivitas, struktur, dan metode. Kredit karbon atau offset bukan pengurang otomatis dari total inventaris scope.</p>
<aside class="ps-cta" aria-labelledby="cta-title">
<h2 id="cta-title">Periksa kesiapan data dan kontrol inventaris</h2>
<p>Petakan gap pada boundary, ownership, data aktivitas, faktor emisi, serta jejak audit sebelum angka digunakan untuk target dan pelaporan.</p>
<p>    <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/carbon-data-readiness-assessment/">Mulai Carbon Data Readiness Assessment</a><br />
  </aside>
<section class="ps-sources" aria-labelledby="sources-title">
<h2 id="sources-title">Sumber Rujukan</h2>
<ul>
<li><a href="https://ghgprotocol.org/corporate-standard">GHG Protocol — Corporate Standard</a></li>
<li><a href="https://ghgprotocol.org/calculation-tools-and-guidance">GHG Protocol — Calculation Tools and Guidance</a></li>
<li><a href="https://ghgprotocol.org/scope-2-guidance">GHG Protocol — Scope 2 Guidance</a></li>
<li><a href="https://ghgprotocol.org/corporate-value-chain-scope-3-standard">GHG Protocol — Corporate Value Chain (Scope 3) Standard</a></li>
</ul>
</section>
</article>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menghitung-jejak-karbon-carbon-footprint-perusahaan-di-indonesia/">Cara Menghitung Carbon Footprint Perusahaan: Panduan GHG Inventory</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sustainability.proxsisgroup.com/cara-menghitung-jejak-karbon-carbon-footprint-perusahaan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Proxsis Sustainability Drives ESG Transformation in Real Assets through GRESB Partner Series #4</title>
		<link>https://sustainability.proxsisgroup.com/proxsis-sustainability-drives-esg-transformation-in-real-assets-through-gresb-partner-series-4/</link>
					<comments>https://sustainability.proxsisgroup.com/proxsis-sustainability-drives-esg-transformation-in-real-assets-through-gresb-partner-series-4/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Heru Fajar]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 02:44:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Press Release]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sustainability.proxsisgroup.com/?p=1538</guid>

					<description><![CDATA[<p>Press Release Proxsis Sustainability Drives ESG Transformation in Real Assets through GRESB Partner Series #4 Jakarta, February 25, 2026 Strategic Forum Proxsis Sustainability, alongside GRESB and strategic partner TÜV NORD Indonesia, hosted the executive forum &#8220;GRESB Partner Series #4 – Special Iftar Executive Gathering.&#8221; Under the theme “ESG in Real Assets: From Risk-Based Implementation to Investor-Trusted [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/proxsis-sustainability-drives-esg-transformation-in-real-assets-through-gresb-partner-series-4/">Proxsis Sustainability Drives ESG Transformation in Real Assets through GRESB Partner Series #4</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></description>
			<style id="elementor-post-1538">.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-a868656{--display:flex;--margin-top:50px;--margin-bottom:0px;--margin-left:0px;--margin-right:0px;}.elementor-widget-button .elementor-button{background-color:var( --e-global-color-accent );font-family:var( --e-global-typography-accent-font-family ), Sans-serif;font-weight:var( --e-global-typography-accent-font-weight );}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-0a2abcc .elementor-button{background-color:#01422C;font-size:12px;text-transform:uppercase;letter-spacing:0.7px;border-radius:24px 24px 24px 24px;padding:10px 30px 10px 30px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-0a2abcc:hover{--e-transform-translateY:-5px;}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title{font-family:var( --e-global-typography-primary-font-family ), Sans-serif;font-weight:var( --e-global-typography-primary-font-weight );color:var( --e-global-color-primary );}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2217ca7{text-align:start;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2217ca7 .elementor-heading-title{font-size:54px;font-weight:800;line-height:57px;color:#2A2A2A;}.elementor-widget-icon-list .elementor-icon-list-item:not(:last-child):after{border-color:var( --e-global-color-text );}.elementor-widget-icon-list .elementor-icon-list-icon i{color:var( --e-global-color-primary );}.elementor-widget-icon-list .elementor-icon-list-icon svg{fill:var( --e-global-color-primary );}.elementor-widget-icon-list .elementor-icon-list-item > .elementor-icon-list-text, .elementor-widget-icon-list .elementor-icon-list-item > a{font-family:var( --e-global-typography-text-font-family ), Sans-serif;font-weight:var( --e-global-typography-text-font-weight );}.elementor-widget-icon-list .elementor-icon-list-text{color:var( --e-global-color-secondary );}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8b8c6e9 .elementor-icon-list-icon i{color:#01422C;transition:color 0.3s;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8b8c6e9 .elementor-icon-list-icon svg{fill:#01422C;transition:fill 0.3s;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8b8c6e9{--e-icon-list-icon-size:14px;--icon-vertical-offset:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8b8c6e9 .elementor-icon-list-item > .elementor-icon-list-text, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8b8c6e9 .elementor-icon-list-item > a{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-weight:400;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8b8c6e9 .elementor-icon-list-text{color:#000000;transition:color 0.3s;}.elementor-widget-divider{--divider-color:var( --e-global-color-secondary );}.elementor-widget-divider .elementor-divider__text{color:var( --e-global-color-secondary );font-family:var( --e-global-typography-secondary-font-family ), Sans-serif;font-weight:var( --e-global-typography-secondary-font-weight );}.elementor-widget-divider.elementor-view-stacked .elementor-icon{background-color:var( --e-global-color-secondary );}.elementor-widget-divider.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-widget-divider.elementor-view-default .elementor-icon{color:var( --e-global-color-secondary );border-color:var( --e-global-color-secondary );}.elementor-widget-divider.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-widget-divider.elementor-view-default .elementor-icon svg{fill:var( --e-global-color-secondary );}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-93c39fc{--divider-border-style:solid;--divider-color:#CFCFCF;--divider-border-width:1px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-93c39fc .elementor-divider-separator{width:100%;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-93c39fc .elementor-divider{padding-block-start:5px;padding-block-end:5px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-d782bfc{--display:flex;--min-height:400px;--border-radius:18px 18px 18px 18px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-d782bfc:not(.elementor-motion-effects-element-type-background), .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-d782bfc > .elementor-motion-effects-container > .elementor-motion-effects-layer{background-position:center center;background-repeat:no-repeat;background-size:cover;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3c753f6{--display:flex;--margin-top:20px;--margin-bottom:20px;--margin-left:0px;--margin-right:0px;}.elementor-widget-text-editor{font-family:var( --e-global-typography-text-font-family ), Sans-serif;font-weight:var( --e-global-typography-text-font-weight );color:var( --e-global-color-text );}.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-stacked .elementor-drop-cap{background-color:var( --e-global-color-primary );}.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-framed .elementor-drop-cap, .elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-default .elementor-drop-cap{color:var( --e-global-color-primary );border-color:var( --e-global-color-primary );}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-7dc6b2b{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:20px;font-weight:400;line-height:31px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-7dc6b2b p{margin-block-end:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-a034173{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:16px;font-weight:400;line-height:31px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-a034173 p{margin-block-end:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-f400a74{--display:flex;--margin-top:20px;--margin-bottom:20px;--margin-left:0px;--margin-right:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-1e3aa63 .elementor-heading-title{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:24px;font-weight:600;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-56593f2{--display:flex;--flex-direction:row;--container-widget-width:initial;--container-widget-height:100%;--container-widget-flex-grow:1;--container-widget-align-self:stretch;--flex-wrap-mobile:wrap;--border-radius:24px 24px 24px 24px;--padding-top:30px;--padding-bottom:30px;--padding-left:30px;--padding-right:30px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-56593f2:not(.elementor-motion-effects-element-type-background), .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-56593f2 > .elementor-motion-effects-container > .elementor-motion-effects-layer{background-color:#F8F8F8;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-56593f2:hover{box-shadow:0px 0px 5px 0px rgba(0,0,0,0.5);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-017f330{--display:flex;}.elementor-widget-icon.elementor-view-stacked .elementor-icon{background-color:var( --e-global-color-primary );}.elementor-widget-icon.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-widget-icon.elementor-view-default .elementor-icon{color:var( --e-global-color-primary );border-color:var( --e-global-color-primary );}.elementor-widget-icon.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-widget-icon.elementor-view-default .elementor-icon svg{fill:var( --e-global-color-primary );}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4 .elementor-icon-wrapper{text-align:center;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-stacked .elementor-icon{background-color:#FFFFFF;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-default .elementor-icon{color:#FFFFFF;border-color:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-default .elementor-icon svg{fill:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-framed .elementor-icon{background-color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-stacked .elementor-icon svg{fill:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-stacked .elementor-icon:hover{background-color:#01422C;color:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-framed .elementor-icon:hover, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-default .elementor-icon:hover{color:#01422C;border-color:#01422C;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-framed .elementor-icon:hover, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-default .elementor-icon:hover svg{fill:#01422C;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-framed .elementor-icon:hover{background-color:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4.elementor-view-stacked .elementor-icon:hover svg{fill:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-fde42f4 .elementor-icon{padding:15px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2dd2a59{--display:flex;--gap:10px 10px;--row-gap:10px;--column-gap:10px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-ccd17f3 .elementor-heading-title{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:20px;font-weight:600;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-39031fc{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:16px;font-weight:400;line-height:31px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-39031fc p{margin-block-end:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-ed06ab0{--display:flex;border-style:solid;--border-style:solid;border-width:0px 0px 0px 2px;--border-top-width:0px;--border-right-width:0px;--border-bottom-width:0px;--border-left-width:2px;border-color:#2A2A2A;--border-color:#2A2A2A;--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:10px;--padding-right:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8ec26e4{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:14px;font-weight:400;line-height:31px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8ec26e4 p{margin-block-end:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-a6d7e32{--display:flex;--flex-direction:row;--container-widget-width:initial;--container-widget-height:100%;--container-widget-flex-grow:1;--container-widget-align-self:stretch;--flex-wrap-mobile:wrap;--border-radius:24px 24px 24px 24px;--padding-top:30px;--padding-bottom:30px;--padding-left:30px;--padding-right:30px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-a6d7e32:not(.elementor-motion-effects-element-type-background), .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-a6d7e32 > .elementor-motion-effects-container > .elementor-motion-effects-layer{background-color:#F8F8F8;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-a6d7e32:hover{box-shadow:0px 0px 5px 0px rgba(0,0,0,0.5);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-c023bcd{--display:flex;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3 .elementor-icon-wrapper{text-align:center;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-stacked .elementor-icon{background-color:#FFFFFF;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-default .elementor-icon{color:#FFFFFF;border-color:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-default .elementor-icon svg{fill:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-framed .elementor-icon{background-color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-stacked .elementor-icon svg{fill:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-stacked .elementor-icon:hover{background-color:#01422C;color:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-framed .elementor-icon:hover, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-default .elementor-icon:hover{color:#01422C;border-color:#01422C;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-framed .elementor-icon:hover, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-default .elementor-icon:hover svg{fill:#01422C;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-framed .elementor-icon:hover{background-color:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3.elementor-view-stacked .elementor-icon:hover svg{fill:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-00ca0c3 .elementor-icon{padding:15px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-be20b90{--display:flex;--gap:10px 10px;--row-gap:10px;--column-gap:10px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-d130a7d .elementor-heading-title{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:20px;font-weight:600;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-68454d2{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:16px;font-weight:400;line-height:31px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-68454d2 p{margin-block-end:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-a35377e{--display:flex;border-style:solid;--border-style:solid;border-width:0px 0px 0px 2px;--border-top-width:0px;--border-right-width:0px;--border-bottom-width:0px;--border-left-width:2px;border-color:#2A2A2A;--border-color:#2A2A2A;--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:10px;--padding-right:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-5df71e3{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:14px;font-weight:400;line-height:31px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-5df71e3 p{margin-block-end:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-0feb84e{--display:flex;--flex-direction:row;--container-widget-width:initial;--container-widget-height:100%;--container-widget-flex-grow:1;--container-widget-align-self:stretch;--flex-wrap-mobile:wrap;--border-radius:24px 24px 24px 24px;--padding-top:30px;--padding-bottom:30px;--padding-left:30px;--padding-right:30px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-0feb84e:not(.elementor-motion-effects-element-type-background), .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-0feb84e > .elementor-motion-effects-container > .elementor-motion-effects-layer{background-color:#F8F8F8;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-0feb84e:hover{box-shadow:0px 0px 5px 0px rgba(0,0,0,0.5);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8e3279c{--display:flex;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8 .elementor-icon-wrapper{text-align:center;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-stacked .elementor-icon{background-color:#FFFFFF;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-default .elementor-icon{color:#FFFFFF;border-color:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-default .elementor-icon svg{fill:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-framed .elementor-icon{background-color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-stacked .elementor-icon svg{fill:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-stacked .elementor-icon:hover{background-color:#01422C;color:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-framed .elementor-icon:hover, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-default .elementor-icon:hover{color:#01422C;border-color:#01422C;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-framed .elementor-icon:hover, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-default .elementor-icon:hover svg{fill:#01422C;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-framed .elementor-icon:hover{background-color:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8.elementor-view-stacked .elementor-icon:hover svg{fill:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3f091d8 .elementor-icon{padding:15px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-0b09a94{--display:flex;--gap:10px 10px;--row-gap:10px;--column-gap:10px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-769e385 .elementor-heading-title{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:20px;font-weight:600;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-f8707df{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:16px;font-weight:400;line-height:31px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-f8707df p{margin-block-end:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-f09c0fd{--display:flex;border-style:solid;--border-style:solid;border-width:0px 0px 0px 2px;--border-top-width:0px;--border-right-width:0px;--border-bottom-width:0px;--border-left-width:2px;border-color:#2A2A2A;--border-color:#2A2A2A;--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:10px;--padding-right:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-c64f425{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:14px;font-weight:400;line-height:31px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-c64f425 p{margin-block-end:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-5702cdc{--display:flex;--flex-direction:column;--container-widget-width:100%;--container-widget-height:initial;--container-widget-flex-grow:0;--container-widget-align-self:initial;--flex-wrap-mobile:wrap;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-38e2528 .elementor-heading-title{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:24px;font-weight:600;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-47f2605{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:16px;font-weight:400;line-height:31px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-47f2605 p{margin-block-end:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-4f54d07 .elementor-heading-title{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:24px;font-weight:600;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-cca3537{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:16px;font-weight:400;line-height:31px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-cca3537 p{margin-block-end:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8734ff1{--display:flex;--margin-top:50px;--margin-bottom:50px;--margin-left:0px;--margin-right:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-02f7d81{--display:flex;--flex-direction:row;--container-widget-width:initial;--container-widget-height:100%;--container-widget-flex-grow:1;--container-widget-align-self:stretch;--flex-wrap-mobile:wrap;--border-radius:24px 24px 24px 24px;--padding-top:30px;--padding-bottom:30px;--padding-left:30px;--padding-right:30px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-02f7d81:not(.elementor-motion-effects-element-type-background), .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-02f7d81 > .elementor-motion-effects-container > .elementor-motion-effects-layer{background-color:#F8F8F8;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-7ab2d77{--display:flex;--gap:10px 10px;--row-gap:10px;--column-gap:10px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-d2d4840 .elementor-heading-title{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:24px;font-weight:600;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-37827d4{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:16px;font-weight:400;line-height:31px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-37827d4 p{margin-block-end:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-423623a{--display:flex;--flex-direction:row;--container-widget-width:initial;--container-widget-height:100%;--container-widget-flex-grow:1;--container-widget-align-self:stretch;--flex-wrap-mobile:wrap;--margin-top:10px;--margin-bottom:10px;--margin-left:0px;--margin-right:0px;--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:0px;--padding-right:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-01211da{--display:flex;--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:0px;--padding-right:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-aee72d0 .elementor-icon-list-items:not(.elementor-inline-items) .elementor-icon-list-item:not(:last-child){padding-block-end:calc(5px/2);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-aee72d0 .elementor-icon-list-items:not(.elementor-inline-items) .elementor-icon-list-item:not(:first-child){margin-block-start:calc(5px/2);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-aee72d0 .elementor-icon-list-items.elementor-inline-items .elementor-icon-list-item{margin-inline:calc(5px/2);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-aee72d0 .elementor-icon-list-items.elementor-inline-items{margin-inline:calc(-5px/2);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-aee72d0 .elementor-icon-list-items.elementor-inline-items .elementor-icon-list-item:after{inset-inline-end:calc(-5px/2);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-aee72d0 .elementor-icon-list-icon i{color:#2A2A2A;transition:color 0.3s;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-aee72d0 .elementor-icon-list-icon svg{fill:#2A2A2A;transition:fill 0.3s;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-aee72d0{--e-icon-list-icon-size:14px;--icon-vertical-offset:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-aee72d0 .elementor-icon-list-item > .elementor-icon-list-text, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-aee72d0 .elementor-icon-list-item > a{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:16px;font-weight:400;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-aee72d0 .elementor-icon-list-text{color:#000000;transition:color 0.3s;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-939755e{--display:flex;--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:0px;--padding-right:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-bef61a7 .elementor-icon-list-items:not(.elementor-inline-items) .elementor-icon-list-item:not(:last-child){padding-block-end:calc(5px/2);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-bef61a7 .elementor-icon-list-items:not(.elementor-inline-items) .elementor-icon-list-item:not(:first-child){margin-block-start:calc(5px/2);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-bef61a7 .elementor-icon-list-items.elementor-inline-items .elementor-icon-list-item{margin-inline:calc(5px/2);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-bef61a7 .elementor-icon-list-items.elementor-inline-items{margin-inline:calc(-5px/2);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-bef61a7 .elementor-icon-list-items.elementor-inline-items .elementor-icon-list-item:after{inset-inline-end:calc(-5px/2);}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-bef61a7 .elementor-icon-list-icon i{color:#2A2A2A;transition:color 0.3s;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-bef61a7 .elementor-icon-list-icon svg{fill:#2A2A2A;transition:fill 0.3s;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-bef61a7{--e-icon-list-icon-size:14px;--icon-vertical-offset:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-bef61a7 .elementor-icon-list-item > .elementor-icon-list-text, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-bef61a7 .elementor-icon-list-item > a{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:16px;font-weight:400;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-bef61a7 .elementor-icon-list-text{color:#000000;transition:color 0.3s;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8bf9fae{--divider-border-style:solid;--divider-color:#CFCFCF;--divider-border-width:1px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8bf9fae .elementor-divider-separator{width:100%;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8bf9fae .elementor-divider{padding-block-start:5px;padding-block-end:5px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-e759938{--display:flex;--flex-direction:row;--container-widget-width:calc( ( 1 - var( --container-widget-flex-grow ) ) * 100% );--container-widget-height:100%;--container-widget-flex-grow:1;--container-widget-align-self:stretch;--flex-wrap-mobile:wrap;--justify-content:space-between;--align-items:center;--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:0px;--padding-right:0px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-78764aa{--display:flex;--flex-direction:row;--container-widget-width:calc( ( 1 - var( --container-widget-flex-grow ) ) * 100% );--container-widget-height:100%;--container-widget-flex-grow:1;--container-widget-align-self:stretch;--flex-wrap-mobile:wrap;--align-items:center;}.elementor-widget-icon-box.elementor-view-stacked .elementor-icon{background-color:var( --e-global-color-primary );}.elementor-widget-icon-box.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-widget-icon-box.elementor-view-default .elementor-icon{fill:var( --e-global-color-primary );color:var( --e-global-color-primary );border-color:var( --e-global-color-primary );}.elementor-widget-icon-box .elementor-icon-box-title, .elementor-widget-icon-box .elementor-icon-box-title a{font-family:var( --e-global-typography-primary-font-family ), Sans-serif;font-weight:var( --e-global-typography-primary-font-weight );}.elementor-widget-icon-box .elementor-icon-box-title{color:var( --e-global-color-primary );}.elementor-widget-icon-box:has(:hover) .elementor-icon-box-title,
					 .elementor-widget-icon-box:has(:focus) .elementor-icon-box-title{color:var( --e-global-color-primary );}.elementor-widget-icon-box .elementor-icon-box-description{font-family:var( --e-global-typography-text-font-family ), Sans-serif;font-weight:var( --e-global-typography-text-font-weight );color:var( --e-global-color-text );}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f{width:auto;max-width:auto;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f .elementor-icon-box-wrapper{align-items:center;text-align:start;gap:7px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f .elementor-icon-box-title{margin-block-end:3px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f.elementor-view-stacked .elementor-icon{background-color:#FFFFFF;fill:#2A2A2A;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f.elementor-view-default .elementor-icon{fill:#FFFFFF;color:#FFFFFF;border-color:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f.elementor-view-framed .elementor-icon{background-color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f .elementor-icon{font-size:18px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f .elementor-icon-box-title, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f .elementor-icon-box-title a{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:16px;font-weight:600;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f:has(:hover) .elementor-icon-box-title,
					 .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ca0b0f:has(:focus) .elementor-icon-box-title{color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7{width:auto;max-width:auto;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7 .elementor-icon-box-wrapper{align-items:center;text-align:start;gap:7px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7 .elementor-icon-box-title{margin-block-end:3px;color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7.elementor-view-stacked .elementor-icon{background-color:#FFFFFF;fill:#2A2A2A;color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7.elementor-view-framed .elementor-icon, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7.elementor-view-default .elementor-icon{fill:#FFFFFF;color:#FFFFFF;border-color:#FFFFFF;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7.elementor-view-framed .elementor-icon{background-color:#2A2A2A;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7 .elementor-icon{font-size:18px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7 .elementor-icon-box-title, .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7 .elementor-icon-box-title a{font-family:"Roboto", Sans-serif;font-size:16px;font-weight:600;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7:has(:hover) .elementor-icon-box-title,
					 .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-9cb45f7:has(:focus) .elementor-icon-box-title{color:#000000;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ec1c79 .elementor-button{background-color:#01422C;font-size:18px;letter-spacing:0.7px;border-radius:18px 18px 18px 18px;padding:20px 30px 20px 30px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ec1c79:hover{--e-transform-translateY:-5px;}@media(max-width:767px){.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-a868656{--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:20px;--padding-right:20px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-0a2abcc .elementor-button{font-size:12px;padding:5px 10px 5px 10px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2217ca7 .elementor-heading-title{font-size:24px;line-height:1.3em;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-d782bfc{--min-height:200px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3c753f6{--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:20px;--padding-right:20px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-f400a74{--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:20px;--padding-right:20px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-1e3aa63 .elementor-heading-title{line-height:1.3em;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-5702cdc{--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:20px;--padding-right:20px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-38e2528 .elementor-heading-title{line-height:1.3em;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-4f54d07 .elementor-heading-title{line-height:1.3em;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8734ff1{--padding-top:0px;--padding-bottom:0px;--padding-left:20px;--padding-right:20px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-02f7d81{--padding-top:10px;--padding-bottom:10px;--padding-left:10px;--padding-right:10px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-d2d4840 .elementor-heading-title{line-height:1.3em;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2ec1c79 .elementor-button{font-size:18px;padding:15px 30px 15px 30px;}}@media(min-width:768px){.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-a868656{--content-width:1000px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-3c753f6{--content-width:1000px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-f400a74{--content-width:1000px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-017f330{--width:12%;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-2dd2a59{--width:90%;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-c023bcd{--width:12%;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-be20b90{--width:90%;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8e3279c{--width:12%;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-0b09a94{--width:90%;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-5702cdc{--content-width:1000px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-8734ff1{--content-width:1000px;}.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-78764aa{--width:70%;}}</style><style id="elementor-post-dynamic-1538">.elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-d782bfc:not(.elementor-motion-effects-element-type-background), .elementor-1538 .elementor-element.elementor-element-d782bfc > .elementor-motion-effects-container > .elementor-motion-effects-layer{background-image:url("https://sustainability.proxsisgroup.com/wp-content/uploads/2026/03/fc50da5b-3f63-4a73-8bc3-c2701d5da357.webp");}</style>							<content:encoded><![CDATA[		<div data-elementor-type="wp-post" data-elementor-id="1538" class="elementor elementor-1538" data-elementor-post-type="post">
				<div class="elementor-element elementor-element-a868656 e-flex e-con-boxed e-con e-parent" data-id="a868656" data-element_type="container" data-e-type="container">
					<div class="e-con-inner">
				<div class="elementor-element elementor-element-0a2abcc e-transform e-transform elementor-widget elementor-widget-button" data-id="0a2abcc" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-settings="{&quot;_transform_translateY_effect_hover&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:-5,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect_tablet&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect_mobile&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateY_effect&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateY_effect_tablet&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateY_effect_mobile&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect_hover&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect_hover_tablet&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect_hover_mobile&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateY_effect_hover_tablet&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateY_effect_hover_mobile&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]}}" data-widget_type="button.default">
										<a class="elementor-button elementor-button-link elementor-size-sm" href="#">
						<span class="elementor-button-content-wrapper">
									<span class="elementor-button-text">Press Release</span>
					</span>
					</a>
								</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-2217ca7 elementor-widget elementor-widget-heading" data-id="2217ca7" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="heading.default">
					<h1 class="elementor-heading-title elementor-size-default">Proxsis Sustainability Drives ESG Transformation in Real Assets through GRESB Partner Series #4</h1>				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-8b8c6e9 elementor-icon-list--layout-inline elementor-list-item-link-full_width elementor-widget elementor-widget-icon-list" data-id="8b8c6e9" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="icon-list.default">
							<ul class="elementor-icon-list-items elementor-inline-items">
							<li class="elementor-icon-list-item elementor-inline-item">
											<span class="elementor-icon-list-icon">
							<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-fas-map-marker-alt" viewBox="0 0 384 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M172.268 501.67C26.97 291.031 0 269.413 0 192 0 85.961 85.961 0 192 0s192 85.961 192 192c0 77.413-26.97 99.031-172.268 309.67-9.535 13.774-29.93 13.773-39.464 0zM192 272c44.183 0 80-35.817 80-80s-35.817-80-80-80-80 35.817-80 80 35.817 80 80 80z"></path></svg>						</span>
										<span class="elementor-icon-list-text">Jakarta, February 25, 2026</span>
									</li>
								<li class="elementor-icon-list-item elementor-inline-item">
											<span class="elementor-icon-list-icon">
							<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-fas-briefcase" viewBox="0 0 512 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M320 336c0 8.84-7.16 16-16 16h-96c-8.84 0-16-7.16-16-16v-48H0v144c0 25.6 22.4 48 48 48h416c25.6 0 48-22.4 48-48V288H320v48zm144-208h-80V80c0-25.6-22.4-48-48-48H176c-25.6 0-48 22.4-48 48v48H48c-25.6 0-48 22.4-48 48v80h512v-80c0-25.6-22.4-48-48-48zm-144 0H192V96h128v32z"></path></svg>						</span>
										<span class="elementor-icon-list-text">Strategic Forum</span>
									</li>
						</ul>
						</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-93c39fc elementor-widget-divider--view-line elementor-widget elementor-widget-divider" data-id="93c39fc" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="divider.default">
							<div class="elementor-divider">
			<span class="elementor-divider-separator">
						</span>
		</div>
						</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-d782bfc e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="d782bfc" data-element_type="container" data-e-type="container" data-settings="{&quot;background_background&quot;:&quot;classic&quot;}">
				</div>
					</div>
				</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-3c753f6 e-flex e-con-boxed e-con e-parent" data-id="3c753f6" data-element_type="container" data-e-type="container">
					<div class="e-con-inner">
				<div class="elementor-element elementor-element-7dc6b2b elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-id="7dc6b2b" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="text-editor.default">
									<p>Proxsis Sustainability, alongside GRESB and strategic partner TÜV NORD Indonesia, hosted the executive forum &#8220;GRESB Partner Series #4 – Special Iftar Executive Gathering.&#8221;</p>								</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-a034173 elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-id="a034173" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="text-editor.default">
									<p class="mb-6">Under the theme <strong>“ESG in Real Assets: From Risk-Based Implementation to Investor-Trusted Asset Value,”</strong> the forum convened industry leaders, investors, and ESG practitioners at Vasaka Hotel, Jakarta. The discussion emphasized how Environmental, Social, and Governance (ESG) implementation enhances asset value, strengthens business resilience, and unlocks access to sustainable global financing.</p><p> </p><p class="mb-6">The shift in the real assets sector—spanning property, construction, infrastructure, and energy—is significant. ESG has evolved from a mere reporting obligation or administrative compliance into a <strong>strategic instrument for risk management</strong> and investment decision-making.</p>								</div>
					</div>
				</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-f400a74 e-flex e-con-boxed e-con e-parent" data-id="f400a74" data-element_type="container" data-e-type="container">
					<div class="e-con-inner">
				<div class="elementor-element elementor-element-1e3aa63 elementor-widget elementor-widget-heading" data-id="1e3aa63" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="heading.default">
					<h2 class="elementor-heading-title elementor-size-default">Strategic Perspectives</h2>				</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-56593f2 e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="56593f2" data-element_type="container" data-e-type="container" data-settings="{&quot;background_background&quot;:&quot;classic&quot;}">
		<div class="elementor-element elementor-element-017f330 e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="017f330" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-fde42f4 elementor-view-stacked elementor-shape-rounded elementor-widget elementor-widget-icon" data-id="fde42f4" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="icon.default">
							<div class="elementor-icon-wrapper">
			<div class="elementor-icon">
			<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-fas-globe" viewBox="0 0 496 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M336.5 160C322 70.7 287.8 8 248 8s-74 62.7-88.5 152h177zM152 256c0 22.2 1.2 43.5 3.3 64h185.3c2.1-20.5 3.3-41.8 3.3-64s-1.2-43.5-3.3-64H155.3c-2.1 20.5-3.3 41.8-3.3 64zm324.7-96c-28.6-67.9-86.5-120.4-158-141.6 24.4 33.8 41.2 84.7 50 141.6h108zM177.2 18.4C105.8 39.6 47.8 92.1 19.3 160h108c8.7-56.9 25.5-107.8 49.9-141.6zM487.4 192H372.7c2.1 21 3.3 42.5 3.3 64s-1.2 43-3.3 64h114.6c5.5-20.5 8.6-41.8 8.6-64s-3.1-43.5-8.5-64zM120 256c0-21.5 1.2-43 3.3-64H8.6C3.2 212.5 0 233.8 0 256s3.2 43.5 8.6 64h114.6c-2-21-3.2-42.5-3.2-64zm39.5 96c14.5 89.3 48.7 152 88.5 152s74-62.7 88.5-152h-177zm159.3 141.6c71.4-21.2 129.4-73.7 158-141.6h-108c-8.8 56.9-25.6 107.8-50 141.6zM19.3 352c28.6 67.9 86.5 120.4 158 141.6-24.4-33.8-41.2-84.7-50-141.6h-108z"></path></svg>			</div>
		</div>
						</div>
				</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-2dd2a59 e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="2dd2a59" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-ccd17f3 elementor-widget elementor-widget-heading" data-id="ccd17f3" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="heading.default">
					<h2 class="elementor-heading-title elementor-size-default">ESG as a Global Investor Standard</h2>				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-39031fc elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-id="39031fc" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="text-editor.default">
									<p class="mb-6"><strong>Trey Archer</strong>, Business Development Director Asia at GRESB, explained that over 170 global investors, including BlackRock and APG, utilize GRESB benchmarks for investment due diligence.</p>								</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-ed06ab0 e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="ed06ab0" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-8ec26e4 elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-id="8ec26e4" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="text-editor.default">
									<p class="mb-6">&#8220;Companies with strong ESG transparency are more trusted by investors and have better access to sustainable financing.&#8221;</p>								</div>
				</div>
				</div>
				</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-a6d7e32 e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="a6d7e32" data-element_type="container" data-e-type="container" data-settings="{&quot;background_background&quot;:&quot;classic&quot;}">
		<div class="elementor-element elementor-element-c023bcd e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="c023bcd" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-00ca0c3 elementor-view-stacked elementor-shape-rounded elementor-widget elementor-widget-icon" data-id="00ca0c3" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="icon.default">
							<div class="elementor-icon-wrapper">
			<div class="elementor-icon">
			<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-far-chart-bar" viewBox="0 0 512 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M396.8 352h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V108.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v230.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm-192 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V140.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v198.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm96 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V204.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v134.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zM496 400H48V80c0-8.84-7.16-16-16-16H16C7.16 64 0 71.16 0 80v336c0 17.67 14.33 32 32 32h464c8.84 0 16-7.16 16-16v-16c0-8.84-7.16-16-16-16zm-387.2-48h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8v-70.4c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v70.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8z"></path></svg>			</div>
		</div>
						</div>
				</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-be20b90 e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="be20b90" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-d130a7d elementor-widget elementor-widget-heading" data-id="d130a7d" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="heading.default">
					<h2 class="elementor-heading-title elementor-size-default">ESG as a Business Transformation Lever</h2>				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-68454d2 elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-id="68454d2" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="text-editor.default">
									<p class="mb-6"><strong>Farida Maharani</strong>, Senior Manager of Business Strategy at PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, highlighted how ESG integration bolsters operational efficiency and facilitates access to green financing.</p>								</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-a35377e e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="a35377e" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-5df71e3 elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-id="5df71e3" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="text-editor.default">
									<p class="mb-6">&#8220;ESG is not just a reporting duty; it is the foundation for building a more resilient and sustainable business model.&#8221;</p>								</div>
				</div>
				</div>
				</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-0feb84e e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="0feb84e" data-element_type="container" data-e-type="container" data-settings="{&quot;background_background&quot;:&quot;classic&quot;}">
		<div class="elementor-element elementor-element-8e3279c e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="8e3279c" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-3f091d8 elementor-view-stacked elementor-shape-rounded elementor-widget elementor-widget-icon" data-id="3f091d8" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="icon.default">
							<div class="elementor-icon-wrapper">
			<div class="elementor-icon">
			<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-fas-shield-alt" viewBox="0 0 512 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M466.5 83.7l-192-80a48.15 48.15 0 0 0-36.9 0l-192 80C27.7 91.1 16 108.6 16 128c0 198.5 114.5 335.7 221.5 380.3 11.8 4.9 25.1 4.9 36.9 0C360.1 472.6 496 349.3 496 128c0-19.4-11.7-36.9-29.5-44.3zM256.1 446.3l-.1-381 175.9 73.3c-3.3 151.4-82.1 261.1-175.8 307.7z"></path></svg>			</div>
		</div>
						</div>
				</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-0b09a94 e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="0b09a94" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-769e385 elementor-widget elementor-widget-heading" data-id="769e385" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="heading.default">
					<h2 class="elementor-heading-title elementor-size-default">Shifting Paradigm: From Report to Reality</h2>				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-f8707df elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-id="f8707df" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="text-editor.default">
									<p class="mb-6"><strong>Roni Sulistyo Sutrisno</strong>, Co-Founder of Proxsis &amp; Co., emphasized that ESG value emerges when principles are truly applied in asset management and operations, not just annual reports.</p>								</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-f09c0fd e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="f09c0fd" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-c64f425 elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-id="c64f425" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="text-editor.default">
									<p class="mb-6">&#8220;ESG must be integrated into Enterprise Risk Management (ERM) to systematically manage environmental and social risks alongside financial ones.&#8221;</p>								</div>
				</div>
				</div>
				</div>
					</div>
				</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-5702cdc e-flex e-con-boxed e-con e-parent" data-id="5702cdc" data-element_type="container" data-e-type="container">
					<div class="e-con-inner">
				<div class="elementor-element elementor-element-38e2528 elementor-widget elementor-widget-heading" data-id="38e2528" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="heading.default">
					<h2 class="elementor-heading-title elementor-size-default">The Future of Investment in Indonesia</h2>				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-47f2605 elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-id="47f2605" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="text-editor.default">
									<p class="mb-6">The interactive discussion highlighted the necessity of building a stronger ESG ecosystem in Indonesia. Collaboration between industry, regulators, and investors is essential for systematic implementation. In a global investment climate demanding transparency, organizations failing to integrate ESG risk losing access to capital and facing higher funding costs.</p>								</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-4f54d07 elementor-widget elementor-widget-heading" data-id="4f54d07" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="heading.default">
					<h2 class="elementor-heading-title elementor-size-default">The Role of Proxsis Sustainability</h2>				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-cca3537 elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-id="cca3537" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="text-editor.default">
									<p class="mb-6">As the <strong>Official Partner of GRESB in Indonesia</strong>, Proxsis Sustainability actively supports companies and asset owners in enhancing their ESG readiness. This includes strategy development, performance measurement, sustainability reporting, and preparation for international benchmarks like GRESB.</p>								</div>
					</div>
				</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-8734ff1 e-flex e-con-boxed e-con e-parent" data-id="8734ff1" data-element_type="container" data-e-type="container">
					<div class="e-con-inner">
		<div class="elementor-element elementor-element-02f7d81 e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="02f7d81" data-element_type="container" data-e-type="container" data-settings="{&quot;background_background&quot;:&quot;classic&quot;}">
		<div class="elementor-element elementor-element-7ab2d77 e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="7ab2d77" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-d2d4840 elementor-widget elementor-widget-heading" data-id="d2d4840" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="heading.default">
					<h2 class="elementor-heading-title elementor-size-default">About Proxsis Sustainability</h2>				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-37827d4 elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-id="37827d4" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="text-editor.default">
									<p class="mb-6">Part of the Proxsis &amp; Co. ecosystem—a knowledge-based group with 50+ business units—we empower organizations to build credible and investor-relevant sustainability practices.</p>								</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-423623a e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="423623a" data-element_type="container" data-e-type="container">
		<div class="elementor-element elementor-element-01211da e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="01211da" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-aee72d0 elementor-icon-list--layout-traditional elementor-list-item-link-full_width elementor-widget elementor-widget-icon-list" data-id="aee72d0" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="icon-list.default">
							<ul class="elementor-icon-list-items">
							<li class="elementor-icon-list-item">
											<span class="elementor-icon-list-icon">
							<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-fas-check" viewBox="0 0 512 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M173.898 439.404l-166.4-166.4c-9.997-9.997-9.997-26.206 0-36.204l36.203-36.204c9.997-9.998 26.207-9.998 36.204 0L192 312.69 432.095 72.596c9.997-9.997 26.207-9.997 36.204 0l36.203 36.204c9.997 9.997 9.997 26.206 0 36.204l-294.4 294.401c-9.998 9.997-26.207 9.997-36.204-.001z"></path></svg>						</span>
										<span class="elementor-icon-list-text">ESG Strategy &amp; Roadmap</span>
									</li>
								<li class="elementor-icon-list-item">
											<span class="elementor-icon-list-icon">
							<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-fas-check" viewBox="0 0 512 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M173.898 439.404l-166.4-166.4c-9.997-9.997-9.997-26.206 0-36.204l36.203-36.204c9.997-9.998 26.207-9.998 36.204 0L192 312.69 432.095 72.596c9.997-9.997 26.207-9.997 36.204 0l36.203 36.204c9.997 9.997 9.997 26.206 0 36.204l-294.4 294.401c-9.998 9.997-26.207 9.997-36.204-.001z"></path></svg>						</span>
										<span class="elementor-icon-list-text">GRI Sustainability Reporting</span>
									</li>
								<li class="elementor-icon-list-item">
											<span class="elementor-icon-list-icon">
							<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-fas-check" viewBox="0 0 512 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M173.898 439.404l-166.4-166.4c-9.997-9.997-9.997-26.206 0-36.204l36.203-36.204c9.997-9.998 26.207-9.998 36.204 0L192 312.69 432.095 72.596c9.997-9.997 26.207-9.997 36.204 0l36.203 36.204c9.997 9.997 9.997 26.206 0 36.204l-294.4 294.401c-9.998 9.997-26.207 9.997-36.204-.001z"></path></svg>						</span>
										<span class="elementor-icon-list-text">ESG Risk &amp; Governance</span>
									</li>
						</ul>
						</div>
				</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-939755e e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="939755e" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-bef61a7 elementor-icon-list--layout-traditional elementor-list-item-link-full_width elementor-widget elementor-widget-icon-list" data-id="bef61a7" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="icon-list.default">
							<ul class="elementor-icon-list-items">
							<li class="elementor-icon-list-item">
											<span class="elementor-icon-list-icon">
							<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-fas-check" viewBox="0 0 512 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M173.898 439.404l-166.4-166.4c-9.997-9.997-9.997-26.206 0-36.204l36.203-36.204c9.997-9.998 26.207-9.998 36.204 0L192 312.69 432.095 72.596c9.997-9.997 26.207-9.997 36.204 0l36.203 36.204c9.997 9.997 9.997 26.206 0 36.204l-294.4 294.401c-9.998 9.997-26.207 9.997-36.204-.001z"></path></svg>						</span>
										<span class="elementor-icon-list-text">Carbon &amp; Energy Management</span>
									</li>
								<li class="elementor-icon-list-item">
											<span class="elementor-icon-list-icon">
							<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-fas-check" viewBox="0 0 512 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M173.898 439.404l-166.4-166.4c-9.997-9.997-9.997-26.206 0-36.204l36.203-36.204c9.997-9.998 26.207-9.998 36.204 0L192 312.69 432.095 72.596c9.997-9.997 26.207-9.997 36.204 0l36.203 36.204c9.997 9.997 9.997 26.206 0 36.204l-294.4 294.401c-9.998 9.997-26.207 9.997-36.204-.001z"></path></svg>						</span>
										<span class="elementor-icon-list-text">ESG Competency Training</span>
									</li>
						</ul>
						</div>
				</div>
				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-8bf9fae elementor-widget-divider--view-line elementor-widget elementor-widget-divider" data-id="8bf9fae" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="divider.default">
							<div class="elementor-divider">
			<span class="elementor-divider-separator">
						</span>
		</div>
						</div>
		<div class="elementor-element elementor-element-e759938 e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="e759938" data-element_type="container" data-e-type="container">
		<div class="elementor-element elementor-element-78764aa e-con-full e-flex e-con e-child" data-id="78764aa" data-element_type="container" data-e-type="container">
				<div class="elementor-element elementor-element-2ca0b0f elementor-view-stacked elementor-position-inline-start elementor-widget__width-auto elementor-shape-circle elementor-mobile-position-block-start elementor-widget elementor-widget-icon-box" data-id="2ca0b0f" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="icon-box.default">
							<div class="elementor-icon-box-wrapper">

						<div class="elementor-icon-box-icon">
				<a href="mailto:sustain@proxsiscgroup.com" class="elementor-icon" tabindex="-1" aria-label="Email Us">
				<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-fas-envelope" viewBox="0 0 512 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M502.3 190.8c3.9-3.1 9.7-.2 9.7 4.7V400c0 26.5-21.5 48-48 48H48c-26.5 0-48-21.5-48-48V195.6c0-5 5.7-7.8 9.7-4.7 22.4 17.4 52.1 39.5 154.1 113.6 21.1 15.4 56.7 47.8 92.2 47.6 35.7.3 72-32.8 92.3-47.6 102-74.1 131.6-96.3 154-113.7zM256 320c23.2.4 56.6-29.2 73.4-41.4 132.7-96.3 142.8-104.7 173.4-128.7 5.8-4.5 9.2-11.5 9.2-18.9v-19c0-26.5-21.5-48-48-48H48C21.5 64 0 85.5 0 112v19c0 7.4 3.4 14.3 9.2 18.9 30.6 23.9 40.7 32.4 173.4 128.7 16.8 12.2 50.2 41.8 73.4 41.4z"></path></svg>				</a>
			</div>
			
						<div class="elementor-icon-box-content">

									<h3 class="elementor-icon-box-title">
						<a href="mailto:sustain@proxsiscgroup.com" >
							Email Us						</a>
					</h3>
				
									<p class="elementor-icon-box-description">
						sustain@proxsiscgroup.com					</p>
				
			</div>
			
		</div>
						</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-9cb45f7 elementor-view-stacked elementor-position-inline-start elementor-widget__width-auto elementor-shape-circle elementor-mobile-position-block-start elementor-widget elementor-widget-icon-box" data-id="9cb45f7" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-widget_type="icon-box.default">
							<div class="elementor-icon-box-wrapper">

						<div class="elementor-icon-box-icon">
				<a href="https://wa.me/628119334859?text=Halo%20Desi%20%E2%80%94%20CS%20Proxsis%20Sustainability%2C%20saya%20ingin%20mendapatkan%20informasi%20lebih%20lanjut%20tentang%20Proxsis%20Sustainability%20Drives%20ESG%20Transformation%20in%20Real%20Assets%20through%20GRESB%20Partner%20Series%20%234." class="elementor-icon" tabindex="-1" aria-label="WhatsApp">
				<svg aria-hidden="true" class="e-font-icon-svg e-fas-phone-alt" viewBox="0 0 512 512" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><path d="M497.39 361.8l-112-48a24 24 0 0 0-28 6.9l-49.6 60.6A370.66 370.66 0 0 1 130.6 204.11l60.6-49.6a23.94 23.94 0 0 0 6.9-28l-48-112A24.16 24.16 0 0 0 122.6.61l-104 24A24 24 0 0 0 0 48c0 256.5 207.9 464 464 464a24 24 0 0 0 23.4-18.6l24-104a24.29 24.29 0 0 0-14.01-27.6z"></path></svg>				</a>
			</div>
			
						<div class="elementor-icon-box-content">

									<h3 class="elementor-icon-box-title">
						<a href="https://wa.me/628119334859?text=Halo%20Desi%20%E2%80%94%20CS%20Proxsis%20Sustainability%2C%20saya%20ingin%20mendapatkan%20informasi%20lebih%20lanjut%20tentang%20Proxsis%20Sustainability%20Drives%20ESG%20Transformation%20in%20Real%20Assets%20through%20GRESB%20Partner%20Series%20%234." >
							WhatsApp						</a>
					</h3>
				
									<p class="elementor-icon-box-description">
						+62 811-9334-859					</p>
				
			</div>
			
		</div>
						</div>
				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-2ec1c79 e-transform e-transform elementor-widget elementor-widget-button" data-id="2ec1c79" data-element_type="widget" data-e-type="widget" data-settings="{&quot;_transform_translateY_effect_hover&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:-5,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect_tablet&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect_mobile&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateY_effect&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateY_effect_tablet&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateY_effect_mobile&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect_hover&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect_hover_tablet&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateX_effect_hover_mobile&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateY_effect_hover_tablet&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;_transform_translateY_effect_hover_mobile&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:&quot;&quot;,&quot;sizes&quot;:[]}}" data-widget_type="button.default">
										<a class="elementor-button elementor-button-link elementor-size-sm" href="https://sustainability.proxsisgroup.com/">
						<span class="elementor-button-content-wrapper">
									<span class="elementor-button-text">Learn More</span>
					</span>
					</a>
								</div>
				</div>
				</div>
				</div>
					</div>
				</div>
				</div>
		<p>The post <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com/proxsis-sustainability-drives-esg-transformation-in-real-assets-through-gresb-partner-series-4/">Proxsis Sustainability Drives ESG Transformation in Real Assets through GRESB Partner Series #4</a> appeared first on <a href="https://sustainability.proxsisgroup.com">Sustainability Proxsis Group</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sustainability.proxsisgroup.com/proxsis-sustainability-drives-esg-transformation-in-real-assets-through-gresb-partner-series-4/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
